doulaSaya masih tidak percaya bahwa ini sungguh terjadi. Pada tahun 2010, dengan jelas kutulis di blog-ku bahwa aku ingin menjadi seorang doula. Keinginan itu seperti sudah mengakar kuat. Lalu, hanya dua tahun kemudian, tiba-tiba itu sudah terjadi. Jawaban doa tersebut tidak lama ternyata. Sebuah kompleksitas kinerja alam semesta yang amat, sangat, canggih.

Alhamdulillah, saya resmi mengikuti pelatihan Eat Pray Doula di Swasti Eco Cottage, Banjar Nyuh Kuning, Ubud 12-19 Maret 2012 kemarin, dengan tim pengajar antara lain: Debra Pascali Bonaro (doula senior, sutradara film Orgasmic Birth, salah satu pendiri DONA International), Ibu Robin Lim (bidan, pendiri Yayasan Bumi Sehat, CNN Hero 2011), dan Katherine Bramhall (bidan homebirth di Vermont Amerika Serikat, Board of Director Yayasan Bumi Sehat di Amerika). Dipilih nama Eat Pray Doula karena sengaja diambil dari novel best seller karangan Liz Gilbert Eat Pray Love yang kebetulan sepertiga isinya memang ber-setting di tempat yang sama, Ubud. Selain itu juga karena doula identik dengan cinta, jadi seakan tak ada bedanya kita menyebut Eat Pray Love dengan Eat Pray Doula. Toh, doula juga satu bentuk dari cinta.

Workshop ini menjadi serangkaian pelatihan holistik bagi para pesertanya, menyirami kami tak hanya dengan materi dan teknik, tapi juga perjalanan batin dan pemuasan mental spiritual. Tak ubahnya perjalanan Liz Gilbert selama di Bali. Senangnya hati ini, meski banyak yang menganggap bahwa lulusan dokter gigi tiba-tiba jadi ngurusin ibu dan bayi itu semacam turun kasta yang terjun bebas. Well, kalau sudah secure lahir batin, mah, nggak masalah. Saya bersyukur Tuhan juga sudah melemparkan seorang guru sekaligus teman sesama geek kepadaku bernama Reza Gunawan, dari dialah informasi workshop ini datang kepadaku, di Bali pula! Tak perlu jauh-jauh ke luar negeri. Kemampuan radar otomatis Reza dalam mencium segala bau pelatihan dan workshop terdekat memang di atas manusia rata-rata, so, terimakasih, kakaak…

Karena rasa terimakasihku yang begitu besar kepada Reza Gunawan, Dewi Lestari, suamiku Zuniawan, keluarga dan semua teman yang telah men-support passion-ku ini sejak lama dan tulus tanpa embel-embel tatapan aneh, aku ingin mempersembahkan sebuah tulisan dan sharing mengenai apa saja yang sudah aku tangkap selama 8 hari kemarin. Semoga yang membaca bisa turut merasakan gambaran dan ambience-nya yang luar biasa. Maaf bila akan ada banyak teknik-teknik praktis dan doula science yang bakalan disensor. Uraian ini hanya sebatas penangkapan dan penalaran yang kupahami, kadang-kadang aku pun ngantuk dan suka missed sama apa yang si pengajar bilang, dan tahu-tahu kami pecah menjadi beberapa group dan saya pun bengong nggak tau sebenernya kami ini disuruh ngapain. (⌣_⌣”)

Senin, 12 Maret 2012

Ceritanya saya salah kostum dan salah konsep. Saya kira yang namanya workshop tuh di mana-mana sama: indoor, formal, ruangan ber-AC, kuliah mimbar. Saya lupa ini di Bali. Maklum, seumur hidup baru pertama kali ke Bali. Begitu sampai, ternyata yang saya temui di lapangan adalah semacam pendopo outdoor, dikelilingi sawah dan kebun organik, musik latar suara bebek dan kambing. Jangan lupa, aromaterapinya berupa dupa anti nyamuk citronella yang mau tak mau kalah saing dengan semerbak bau kotoran kambing yang terbawa angin. Semua peserta workshop berbusana santai dengan celana pendek, kaos pantai dan sandal jepit.

Baru kali ini saya lihat sebuah pelatihan di mana pesertanya bebas goler-goleran di lantai atau tiduran saat pengajar sedang memberikan materi. Terserah kita mau posisi apa, duduk di gym ball boleh (ada banyak gym ball dan alas yoga bertebaran di situ), duduk sandaran di gym ball boleh, tengkurap sambil nyatat boleh, selama jangan kayang, susah. Kalau anak SD pasti sudah dimarahi karena dianggap tidak memperhatikan. Tapi, ternyata terbukti suasana santai malah membuat materi lebih banyak terserap optimal, left brain-right brain thingy, nih, jadinya. Jadilah di situ saya sendiri yang paling formal bajunya (gamis ala cik-cik puan Malaysie) dan paling mirip lenong make up mukanya. Mau kondangan, buk?

Kami mengawali hari dengan berdiri membentuk lingkaran, bergandengan tangan. Kami secara bergilir mengungkapkan perasaan masing-masing dalam satu atau dua kata, saya bilang “excited yet nervous“.

Lalu, Debra memperkenalkan dua buah boneka sebagai pengajaran awal. Boneka pertama adalah Barbie edisi hamil yang beredar di banyak negara di dunia. Barbie ini sungguh tidak manusiawi dan sudah diboikot di mana-mana. Perempuan hamil tersebut tampak menggunakan sepatu dengan hak yang sangat tinggi, kaki dan tangannya kecil kurus dan terlihat anoreksik. Saat bajunya disingkap, Barbie itu berpayudara sempurna, tapi tidak punya puting susu! Tidak berhenti sampai di situ, perut hamilnya bisa dilepas-pasang, dan bayi yang ada di dalamnya berada pada kondisi sungsang. Tahu bagaimana kondisi vaginanya? Mampet! Cuma ada garis khayal tipis yang menggambarkan lekukan labia mayora. Sungguh mengerikan membayangkan apa jadinya bila anak-anak perempuan kita dibesarkan dengan boneka seperti itu. Sudah kurang nutrisi, tidak bisa melahirkan, tidak bisa menyusui pula karena tidak punya puting susu. Debra ingin di manapun kami berada, bila kami masih menemui Barbie edisi ini dijual, segera foto dan posting dengan di-cc-kan kepada beliau untuk kemudian ditindaklanjuti.

Boneka yang kedua adalah si Brazillian Breastfeeding Doll. Boneka ini adalah produk pionir di negeri asalnya yang diproduksi sebagai usaha memerangi angka Caesarian yang tinggi. Kita tahu Brazil pernah menempati urutan angka Caesarian tertinggi di dunia. Boneka ini melawan jalur mainstream bahwa perempuan Brazil itu harus ber-”bikini body”. Boneka ini berbahan kapuk yang dibungkus katun, bertubuh curvy dan wavy (kayak gue sekarang gitu deh sebelum slimming TAT), dadanya sangat normal, tidak mencuat seperti roket, perempuan ini juga hamil, tapi perutnya normal, ada sedikit stretch mark, vaginanya seperti layaknya yang dimiliki semua perempuan (kalau tidak salah juga ada sedikit rambut pubis yah, saya lupa-lupa ingat). Saat baju dibuka, bayi di dalam perutnya bisa dikeluarkan pelan-pelan lewat vagina, lahir normal, tali pusatnya masih terhubung, lalu bisa segera ditaruh ke dada ibu untuk disusui ƪ(♥ε♥)ʃ ​Anak-anak bisa memainkan simulasi hamil-melahirkan-menyusui dengan sangat natural dan manusiawi. Love it. Bagi yang berminat boneka ini bisa dibeli di situs www.globalbirthfair.com.

Lalu, Debra mengedarkan boneka itu secara bergilir. Sambil memeluk dan menggendong boneka itu, kami masing-masing dipersilahkan untuk memperkenalkan diri dan uraian singkat tentang mengapa kami ada di sini. Ibu Lanny Kuswandi bilang, dia ada di situ karena menggantikan Reza yang sudah berbaik hati memberikan seat pelatihan ini kepadanya. Beliau memang baru belakangan tahu tentang workshop ini, pengin ikut tapi peserta sudah penuh. Belakangan, ternyata ada banyak hikmah dan keuntungan di balik tidak hadirnya Reza Gunawan sebagai peserta di sini, kita lihat nanti, ya.

Fani, salah satu peserta dari Jakarta, bilang dia ada di sini karena ingin sembuh dari pengalaman dua kali kegugurannya, dan bisa melewati kehamilannya saat ini dengan pengetahuan yang lebih baik. Saya bilang, saya bisa ada di sini karena memang saya sudah menuliskannya sejak dua tahun yang lalu, tanpa pernah tahu kapan itu akan terjadi. Ternyata apa yang saya tulis telah menjadi doa, dan terkabul, lumayan mewek, karena saya hadir bersama doula di persalinan saya sendiri, yakni Ibu Lanny Kuswandi.

Sementara itu, peserta lainnya begitu banyak membawa cerita unik dan mengharukan dari tempat asalnya masing-masing. Kami terdiri dari begitu beragam bangsa. Amerika paling banyak, lalu ada dua orang Italia, dua dari Thailand, masing-masing satu orang dari Kanada, Rusia, Swedia, dan lima orang Indonesia. Beberapa ada yang sudah lama praktik jadi doula dan hanya datang untuk sekedar retreat dan bertemu Ibu Robin. Wah, pokoknya super diverse. Mereka semua perempuan yang mengagumkan dan sangat menginspirasi.

Siangnya, kami makan bersama di restoran Swasti. Hidangannya begitu eksotis khas Bali. Menu organik yang ramah bagi para vegetarian. Nasi merah, pumpkin soup, kari ikan bagi yang makan hewan, ditutup dengan “steamed coconut milk banana” yang setelah dibuka ternyata adalah pisang santan dikukus daun, hehe. Alhamdulillah, menu-menunya dibuat sesuai request kebanyakan peserta yang rata-rata adalah vegetarian, yang berarti ramah buat muslim juga, sih. Ibu Robin juga perhatian banget sama saya, bolak balik nanya: mau salat, nggak? Kalau mau salat ada disediakan tempat. Harus mompa ASI di tempat tertutup, nggak? Kalau mau bisa disediain. Aduh Bu, nggak usah repot, aku bisa mompa dengan discreet, kali. Oh, how much I love her.

Setelah makan siang, kami lanjut belajar materi dasar mengenai apa itu melahirkan, bagaimana fisiologi yang mendasari, hormon-hormon yang menyertainya. Lalu, setiap grup diminta berdiskusi mengenai konsep melahirkan sesuai dengan pemahamannya untuk kemudian dipresentasikan. Saya, Bu Lanny, dan Fani, satu kelompok dengan Amy, perempuan cantik yang juga ibu dua anak asal Swedia. Amy juga seorang pakar hypnobirthing. Tampilannya asyik banget, tomboy dengan potongan rambut pendek dan tato di mana-mana, duduk ngangkang dengan satu kaki diangkat ke atas. Secara natural, dia tampil sebagai leader di kelompok kami. Selain itu ada tiga orang lain di kelompok kami, tapi mereka lebih banyak mendengarkan saja. Amy semacam kebingungan tentang bagaimana cara cepat menghadirkan oksitosin ke klien agar persalinannya lancar. Ibu Robin Lim langsung menjelaskan. “Gini, lho. Tatap matanya! Ini oksitosin,” Ibu Robin memegang erat tangan Amy dan memandangnya lekat-lekat. Kami semua langsung pada ketawa dan saling praktik. Di situ kami menjadi lebih paham mengenai peran oksitosin dan bagaimana cara “menularkannya” kepada klien.

Malam, kami nonton bareng film Guerilla Midwife, film dokumentar tentang ibu Robin yang diproduseri oleh anak sulungnya sendiri, Deja.

Selasa, 13 Maret 2012

Pagi itu, kami yoga dengan seorang guru ekspatriat yang sedang mendalami kundalini yoga di ashram di sekitar situ, namanya Ibu Gaby. Beliau mengajar yoganya enak sekali, buat yang jarang olahraga seperti saya juga bisa mengikuti dengan mudah tanpa keseleo dan sakit-sakit otot. Pas meditasi di akhir, rasanya nikmat banget karena setelah otot semua berlatih keras, otot diistirahatkan dalam posisi duduk bersila sembari memerhatikan nafas, khusyuk sekali. Eh, pas saya melek, yang lain ternyata udah bubar (⌣_⌣”) Khusyuk? Bukan. Ngantuk! Rasanya pengin di situ terus saja, nggak bangun-bangun.

Materi pertama di hari itu, kami diharuskan berpartner dengan seseorang yang belum pernah kami ajak bicara sebelumnya. Saya berpartner dengan Nirmoha, seorang terapis craniosacral yang berpraktik di Bumi Sehat. Selama sepuluh menit kami diminta bergantian untuk praktik saling mendengarkan, lima menit untuk setiap orang. Setelah selesai, di depan semuanya, masing-masing harus menceritakan sekilas tentang siapa partnernya, dan mengapa partnernya itu akan jadi seorang doula yang hebat. Tapi, tantangannya adalah, kami tidak boleh mengulang kata-kata yang sama yang telah disampaikan sebelumnya oleh yang bersangkutan.

Kepada Nirmoha, saya ceritakan kejadian traumatis yang membuat saya bertekad untuk menjadi seorang doula. Sedangkan Nirmoha bercerita, saat diregresi ke masa lampaunya, ia mengetahui bahwa dulu ibunya alkoholik dan melahirkan Nirmoha dalam pengaruh alkohol sehingga ia lahir dalam kondisi literally drunk. Itulah alasannya dia jadi doula dan mendalami praktik craniosacral. Kami langsung berpelukan dan menyembuhkan trauma kami masing-masing. Saat waktu habis, Debra memukul singing bowl pertanda semua harus kembali ke pendopo pelatihan. Kami pun berkumpul dan saling memperkenalkan partnernya. Momennya sangat haru, ada banyak tatapan, tangan saling menggenggam, pelukan, usapan, tetesan air mata, karena semua uneg-uneg pada popped up dan kami saling menguatkan. I swear to God, kalau Reza Gunawan ada di sini, it would be a gay moment for him.

Habis makan siang, kami diberi pengetahuan tentang bagaimana profesi doula bisa muncul hingga berkembang sampai saat ini. Semua berawal dari seorang Wendy dan peristiwa yang terjadi di awal tahun 80-an. Wendy adalah seorang gadis 19 tahun yang membantu penelitian dua dokter anak, Marshall Klaus dan John Kennell di sebuah Rumah Sakit Case Western University. Wendy dipekerjakan sebagai salah satu tim pengumpul data dari dua kelompok ibu yang akan melahirkan bayi dengan dua perlakuan teknik berbeda. Wendy hanya diperkenankan untuk duduk di pojok ruangan dan mencatat semua kondisi fisik selama ibu tersebut melalui proses persalinan dan pascapersalinan, tanpa boleh melakukan hal apa pun atau bicara sepatah kata pun.

Tatkala teman-teman Wendy ‘lempeng-lempeng’ saja dan hanya melakukan apa yang diperintahkan, Wendylah satu-satunya yang agak sedikit ‘nakal’ dan mengikuti kata hatinya, meski dia tahu dia bakal merusak segalanya. Wendy tetap nekat mendekati sang ibu, mengajaknya bicara, menggenggam tangannya, lalu membelai rambutnya. Si ibu jadi tiba-tiba tenang dan lebih mudah menjalani masa persalinannya. Setelah bayinya lahirpun, Wendy melanjutkan ulahnya, dia menculik bayi yang ada di ruang bayi untuk dipertemukan dengan ibunya masing-masing.

Duo dokter anak yang berwenang dlm penelitian tersebut tercengang menemui lonjakan data yang di luar dugaan. Terjadi penyimpangan maksimal, semua kacau, tapi kacau in a good way. Wendy pun dipanggil ke ruangan. Wendy panik. Mati deh gue, barangkali pikirnya. Sampai di dalam ruangan, dia diinterogasi mengapa kelompok ibu dan bayi yang dia pegang, skor fisik bayi-bayinya bagus sekali? Kamu apakan? Kamu pasti ngapa-ngapain karena kelompok-kelompok lain tidak seperti ini. Dijawab oleh Wendy, kepada para ibu saya hanya memegang tangan mereka, saya ajak bicara, menenangkan mereka. Setelah proses kelahiran selesai, bayinya saya selundupkan ke ibunya buat disusui dan dipeluk. Semenjak itulah perlakuan pemisahan ibu dan bayi baru lahir di RS itu mulai dihapus. Yeaaay!

Itulah awal dari praktik mother-infant bonding di seluruh dunia. Di situ pulalah awalnya doula bisa ada. Doula adalah sebuah penemuan kembali missing link pendampingan penuh dan berkelanjutan pada ibu bersalin yang sebenarnya telah ada di masa lampau. Doula sudah ada saat manusia ada, lalu menghilang seiring teknologi kedokteran yang overused. Bahkan ada foto kelelawar yang melahirkan dengan dibantu doula-nya. Beberapa tahun kemudian, doula-doula pertama di dunia membentuk cikal bakal DONA International. So, the point is, doula is a continuous support during pregnancy, labor, and postpartum. Doula is an energy. Sometimes we don’t call it DO-la, but BE-la, bacause we just BE-ing there, and everything just goes well. Bagaimana kabar Wendy? Dia melahirkan anak-anaknya secara homebirth, ditemani Penny Simkin, sesepuhnya para doula yang disegani di seluruh dunia.

Selasa sore, kami kunjungan ke klinik Bumi Sehat yang hanya sepuluh menit jalan kaki dari Swasti. Amy kebingungan tentang apakah dia terlalu sangar untuk berjalan kaki di sekitar Nyuh Kuning, “Do I look bloody? Do I look bloody?” Sambil ketawa saya jawab, “Sudah, santai saja, you’re fine.”

Di Klinik Bumi Sehat, kami melihat langsung bagaimana ruangan bersalinnya, pemeriksaan ibu hamilnya, praktik akupunktur, praktik craniosacral yang rata-rata dilakukan oleh para ekspatriat, juga ada kelas prenatal yoga yang dipandu oleh menantu ibu Robin sendiri yang juga sedang hamil. Takjub sekali melihat bahwa penanganan seorang ibu hamil tak sebatas hanya mengukur tensi darah dan meresepkan vitamin, tapi benar-benar holistik, seandainya semua penyedia antenatal care di Indonesia bisa seperti ini. Tak lupa, di situ juga tersedia berbagai macam suvenir Bumi Sehat. Saatnya berburu oleh-oleh: kaus, buku, aksesoris, semua berbau gentle birth. Semua hasil penjualan didonasikan untuk kelangsungan klinik Bumi Sehat. Puas melihat-lihat dan berbelanja, kami pun pulang ke hotel.

Malamnya, kami nonton bareng film Organic Birth, versi barunya Orgasmic Birth. Di beberapa Negara memang istilah orgasmic kurang bisa diterima dengan baik, masih dianggap tabu dan jorok, termasuk di Indonesia. Jadi, Debra ingin agar orang-orang tersebut bisa lebih membuka pikiran. Isi filmnya kurang lebih sama, hanya narasi dan editingnya dibuat agar bisa lebih masuk ke semua kultur dan negara.

Sebagai informasi tambahan, kami para peserta bisa mengikuti jadwal on call 24 jam untuk terjun langsung secara bergilir jadi doula di klinik Bumi Sehat. Teman-teman sudah banyak yang langsung sukses di momen magang pertamanya. Saya, Fani, dan Ibu Lanny, tidak ikut mendaftar karena kami ingin memberikan prioritas buat teman-teman yang dari jauh dulu. Kami bisa kapan saja kembali ke Bumi Sehat untuk magang semau kami. Tapi, yang dari benua seberang, kan, kasihan. Kalau pada malam hari ada pasien melahirkan, paginya seru tuh, mereka langsung sharing ngapain aja selama mendampingi pasien.

Rabu, 14 Maret 2012

Yoga lagi. Ibu Lanny dipuji mountain pose-nya kuat banget. Kokoh kayak pohon. Ngiri. Saya kali ini sudah nggak kena tipu lagi. Sudah hafal, pokoknya kalau sudah chanting “shanti, shanti, shanti” artinya sudah mau selesai dan boleh melek. Weeek! Nggak kena. Yang lain pada senyam-senyum saja . Semuanya saling lihat siapa yang meditasinya keterusan (ketiduran).

Pukul 9 pagi setelah sarapan, kami bahas apa nyawa utama dari seorang doula. Kami mencari partner dengan mangacungkan jari sejumlah berapa saudara kandung kami, yang jumlahnya sama, itu yang akan menjadi partner. Perintahnya adalah, tiap pasangan bergantian menceritakan satu orang perempuan dalam hidupnya, bisa siapa saja, tidak harus sosok yang baik, bisa juga seseorang yang tidak disukai, atau siapa pun perempuan yang pertama kali lewat di pikiran kami. Bagi yang mendengarkan, dilarang keras komentar, nanya, atau apa pun, just listen. Masih boleh body language dan eye gazing.

Saya berpasangan dengan Yasmin, gadis manis bergaya Bohemian, berdarah Jawa-Bali, yang sudah lama bekerja membantu Bumi Sehat. Dia juga sudah membantu banyak persalinan di daerah bencana, di hutan, di tenda penampungan, wah, sudah pengalaman sekali, deh. Saya cerita tentang Mama-ku, dan itu cukup dalam, enemy and angel comes in one package. Yasmin bercerita tentang kakaknya dan suatu masalah yang membelit kehidupannya, sort of relieving buat dia. Dengan membiarkan kata-kata mengalir sendiri, jadi ngeh kalau Mama-ku itu malaikat, bagaimanapun bawel dan nyebelinnya dia, dia selalu kasih makan orang yang kelaparan, dan nggak pernah absen kasih uang, makanan, atau barang ke orang-orang yang nggak punya (˘̩̩̩⌣˘̩̩̩). My mom is a giver. Kalau tidak ada mama, saya tidak mungkin ada di sini ikut pelatihan ini. Mamalah yang menjaga Baim, anak pertamaku, hingga saya bisa tenang pergi ke Bali. Maaf, jadi sedikit intermezzo curcol, nih.

Mendengar kisah Mama-ku, Yasmin langsung memegang tanganku erat, memandangku dalam, dan saya segera tahu lewat mata itu dia berkata “I feel you.” Saat kami berkumpul kembali, Debra bilang, susah kan untuk praktik mendengarkan SAJA tanpa melakukan apa-apa? Padahal nyawanya seorang doula tuh adalah menjadi pendengar yang baik, bukan peng-komen yang baik ataupun penanya balik yg baik. First step to be a doula: JUST LISTEN.

Setelah itu, ada tantangan seru satu lagi. Kami semua, disuruh saling mengucapkan “selamat pagi di hari yang indah ini dan betapa kamu sangat istimewa” ke semuanya, satu-satu, tanpa boleh mengatakan apa pun, seakan-akan kami bisu tuli. Haduh, disitu banjir oksitosin banget! Karena kami bisa mengksplor semua ungkapan cinta dengan hal yang belum pernah dilakukan sebelumnya; senyuman hangat, sentuhan, ciuman, pelukan, elusan, bahasa tubuh, kadang bahasa isyarat. Semacam halal-bihalal sekumpulan orang tuna wicara. Kami nangis-nangisan. Apalagi saya pas giliran ketemu Ibu Lanny, mewek berdua.

Chiara Perte, yang orang Italia, dan kebetulan kami menginap di hotel yang sama dengan kamar bersebelahan, pas greeting ke aku, dia nekat ngomong “Oh… (jeda lama) beautiful mom,” sambil kecup keningku (˘̩̩̩⌣˘̩̩̩) Sumpah, banjir. Nggak kebayang kalau Reza Gunawan ikut sesi ini, mukanya akan penuh lipstik semua (⌣_⌣”) Gay moment lagi deh ujung-ujungnya, kayak Rob Schneider di film Hot Chick. Pelajaran penting yang bisa diambil dari sesi ini adalah seorang doula harus memiliki bahasa tubuh penuh cinta, sehingga saat persalinan, kehadirannya lebih kuat terasa daripada kata-katanya.

Rabu siang, kami membahas posisi yang terbaik saat melahirkan, more technical, more yawnings. Ada satu simulasi yg bagus sekali. Kami ternyata bisa melakukan simulasi pada posisi bagaimana panggul kita bisa paling lebar. Caranya, letakkan empat jari tangan kanan (selain ibu jari) di depan tulang pubis di bawah perut dan tekan. Lalu, letakkan empat jari tangan kiri di tulang sakrum belakang (di atas garis bokong), kemudian tekan. Jarak antara tangan kanan dan tangan kiri kita secara dimensional dari depan-belakang itu adalah lebar panggul kita sebenar-benarnya yang bisa dilalui oleh bayi. Nah terus, cobalah menggoyangkan dan mengubah posisi tubuh Anda. Ternyata jarak dimensional itu bisa berubah-ubah! Carilah posisi mana yang jarak kedua tangan kita paling besar. Semua pada praktik, dan rata-rata saat tubuh kita condong ke belakang, jarak kedua tangan kami jadi sempit!

Makanya, posisi berbaring/lithotomi itu sebetulnya tidak optimal buat lahiran. Dan semua setuju, jarak terbesar diperoleh saat badan kita condong ke depan, itulah posisi yang bagus buat menciptakan ruang yang terbaik buat sang bayi turun dan lahir. Rangka-rangka tubuh manusia tidak fixed seperti rangka besi yang disolder permanen. Susunan rangka kita bersendi, bisa berubah bentuk bila di-adjust sedemikian rupa. Lalu, Debra membagi satu tips lagi agar posisi bayi optimal dan persalinan menjadi lancar, yaitu goyangkan pinggul, dance the baby down. Prinsip melahirkan sama dengan prinsip memakai skinny jeans atau melepas cincin. Kalau kita pake celana ketat atau legging, nggak akan bisa langsung masuk, kan? Harus digoyang-goyang dulu pinggul dan badan kita. Cincin juga begitu, kalau susah masuk/lepas ya harus diputar dulu pelan-pelan ke kiri dan kanan. Nah, hal yang sama berlaku pula pada bayi saat persalinan. Olahraga yang paling bagus saat menjelang persalinan adalah menulis nama lengkap kita sendiri pakai pinggul kita. Kami praktik semua. Sembari praktik, saya, Fani dan Bu Lanny saling liat-liatan. Pikiran kami rasanya mengembara ke hal yang sama. Sekali lagi, apa jadinya bila kawan kami tercinta menuliskan nama lengkapnya REZA GUNAWAN dengan panggulnya, sudah pasti akan kami rekam dan unggah di YouTube dengan judul “The Tibetan Healer Going Nuts“. Wkwkwkwkwk. Memang udah paling bener Ibu Lanny yang ada di sini.

Malamnya, kami nonton More Business of Being Born episode 1 (wawancara intensif dengan Ina May Gaskin) dan episode 3 (liputan khusus profesi doula).

Kamis 15 Maret 2012

Pagi-pagi kami belajar tentang cochrane library sebagai acuan dalam mengevaluasi segala obat, prosedur, maupun tindakan medis. Cochrane.org adalah sebuah situs pusat informasi yang mengumpulkan semua data riset dari berbagai artikel di seluruh dunia mengenai suatu hal, lalu memformulasikannya menjadi kesimpulan yang dibedakan dalam empat kategori. Sudah tentu artikel yang digunakan adalah yang dinilai valid dan dapat dipertanggungjawabkan. Jadi, bila Anda sedang hamil dan ingin mempertimbangkan risiko dan keuntungan dari berbagai tindakan seperti epidural, ILA, episiotomy, induksi, ataupun waterbirth, cari saja di Cochrane. Ternyata menurut Cochrane, penggunaan jasa doula masuk kategori 2 (Likely to be beneficial).

Setelah itu, kami belajar mengenai fase 1 persalinan, apa saja yang dilakukan seorang doula selama perjalanan panjang menunggu fase pembukaan. Tantangan utamanya memang kita tidak boleh dilanda bosan saat menemani persalinan seseorang, apalagi meninggal-ninggalkan klien. Bawalah makanan ringan untuk kita, datanglah kepada klien dengan kondisi tubuh segar, wangi dan sudah sikat gigi. Kalau kita kinclong terus, klien lihatnya juga adem. Perhatikan juga kultur dan kepercayaan yang dianut klien, sebisa mungkin doula menyesuaikan dan menghargai segala latar belakang agama dan budaya kliennya.

Siangnya, kami membahas tentang bagaimana membuat birth plan bersama klien, pakai kartu-kartu dari kertas buffalo yang dipotong 10x20cm yg bertuliskan macam-macam metode/kondisi dalam sebuah persalinan. Sebuah kartu akan bertuliskan ‘episiotomy‘ di satu sisinya, dan ‘no episiotomy‘ di baliknya. Kami dengan hati-hati perlu menyampaikan bahwa beberapa hal mungkin tak sesuai dengan yang direncanakan, karena itu klien harus memilih tiga buah kartu yang masih dapat ditolerir olehnya bila kondisi menjadi berbalik sewaktu-waktu. Contoh: dari normal menjadi SC, atau dari perineum intak menjadi ada robekan dan dijahit. Nanti kalau sudah fixed, dapatlah birth plan. Itu yang menjadi bahan obrolan dan diskusi dengan dokter kandungannya nanti, sehingga komunikasi benar-benar jalan dua arah, nggak miskom. Ini yang namanya informed choice.

Jumat, 16 Maret 2012

Pagi-pagi, membahas fase 2 persalinan, Ibu Robin dan Katherine Bramhall melakukan simulasi berbagai posisi bayi saat keluar dengan media boneka dan model kerangka panggul perempuan. Ingat ya, doula bukan dokter dan bukan bidan. Doula tidak punya wewenang untuk menangkap bayi. Setelah bayi lahir pun, doula dilarang keras berfoto-foto narsis dengan si newborn sambil menggendongnya. Setelah lahir bayi, ya hanya milik dada sang ibu. Di situlah satu-satunya tempat ia harus berada. Di situ kami juga nonton banyak video persalinan. Terus Katherine kasih beberapa wejangan penting bagaimana tipsnya supaya kami bisa diterima dengan baik oleh orang-orang di RS. Bagus banget. Dia bilang, ingatlah bahwa: doctors and physicians are the most harmed people in the world during their study *dalem*

Dokter-dokter sebenernya lebih butuh nurturing dan loving dibandingkan si ibu melahirkan itu sendiri. Kalau suatu saat ada dokter atau bidan memarah-marahi kita, yakinlah bahwa mereka bukannya marah sama kita, tapi sama sistem-sistem disfungsional yang selama ini membelenggu mereka. Bayangkan diri kita adalah air, kita bisa menempatkan diri di berbagai wadah dan mengalir dimana saja sesuai keadaan. Kita akan tahu bagaimana caranya bersikap dan menjalin komunikasi dengan pihak medis, karena doula akan tahu secara intuitif. You will know what you need to know, when you need to know it, kata Debra. Terekam banget di otak.

Siangnya, kami bahas epidural, bagaimana seorang doula masih dapat membantu persalinan klien yang terpaksa harus mendapatkan epidural. Terus kami perpisahan sama Ibu Lanny yang harus pulang duluan karena keesokan harinya sudah fixed harus ngajar kelas hypnobirthing di Jakarta. Semua pada punya kesan Ibu Lanny adalah peserta dengan senyum terindah. Masing-masing mengucapkan salam perpisahan untuk dia. Saya bilang, rasanya saya seperti anak itik kehilangan induknya… sedih. Bye bye, my fairy godmother… nggak ada yang jajanin di Bebek Bengil lagi. *lho, jadi itu alasan sedihnya?

Sabtu 17 Maret 2012

Pagi pada hari ke-6 pelatihan ini diisi dengan materi menyusui yang spesial dibawakan oleh Ibu Robin. Kelas edukasi menyusui selama 3,5 jam ini sudah disetujui oleh DONA International untuk digelari sertifikat introduction to breastfeeding. Senang banget, jadinya kami akan mendapat 3 buah sertifikat setelah selesai workshop Eat Pray Doula ini. Pada sesi ini, yang menjadi primadona adalah duo peserta dari Italia, Chiara dan Daniela yang memiliki apotek di Bassano Del Grapa. Lho, apa hubungannya punya apotek dengan menyusui? Ya, Chiara adalah seorang apoteker, tapi ternyata apoteknya penuh dengan kampanye ASI terselubung. Mereka sedih akan tingginya angka Caesarian dan pemberian susu formula di daerah mereka. Orang Italia seharusnya terkenal dengan romantisme dan cinta membaranya, tapi ternyata jarang sekali ada pasutri yang berciuman saat persalinan demi kelancaran pembukaan jalan lahir, mereka malah ramai-ramai minta epidural. Jadi, apoteknya Chiara dipakai sebagai sarana edukasi persalinan natural, sedangkan Daniela dengan gelar IBCLC-nya berkonsentrasi di ibu menyusui.

Ibu Robin kagum sekali sama usaha mereka. Beliau sudah mengunjungi dan melihat sendiri bagaimana di sana tidak dipajang susu formula, botol susu dan pacifier dengan gamblang, tapi di tempat tersembunyi yang hanya boleh dibeli oleh orang-orang yang benar memenuhi indikasi untuk memberikan sufor (bayi yatim, anak adopsi, dsb). Di Italia sana, pendidikan ibu hamil mengenai melahirkan alami masih sangat jarang ditemui. Jadi, kalau ibu hamil benar-benar sudah mau berangkat ke RS untuk melahirkan, baru deh panik ke apotek beli pembalut nifas, popok bayi, sufor, botol susu, dot dsb. Apotek rasanya sudah seperti tempat pertama yang dikunjungi saat serangan panik melanda. So, di situlah Chiara dan Daniela mencuri start. Muka-muka khas para ibu yang panik pascamelahirkan adalah sasaran empuk buat digiring ke ruang belakang apotek yang sudah disulap menjadi ruang menyusui yang paling nyaman, dengan kursi berlengan yang empuk, poster menyusui besar terpampang di dinding, dan perpustakaan mini berisi rak-rak penuh buku tentang persalinan dan menyusui. Chiara dan Daniela tahu muka-muka mana yang nggak sabar pengin kasih sufor, muka-muka mana yang bakal cepat-cepat minta suntikan epidural, lalu mereka mengedukasi para ibu itu dengan penuh kasih serta tidak menggurui. “Bu, yakin mau kasih anaknya susu formula? Menyusui itu mudah lho kalau tahu triknya,”; “Bu, serius mau langsung pakai epidural? Epidural is no heaven,”; dst. Alangkah cerdiknya mereka berdua. Kami benar-benar terinspirasi.

Peserta lain malah bercerita ada yang menggunakan jasa tukang pos dan mobil boks pengantar suratnya sebagai media edukasi menyusui! Ceritanya, distrik-distrik terpencil di Amerika, mereka tidak punya konselor laktasi yang bisa dipanggil ke rumah seperti di kota. So, tukang poslah yang di-training khusus untuk mengedarkan berbagai pamflet/ video tutorial menyusui ke rumah-rumah para ibu yang habis melahirkan. Mobil boks mereka pun dihias dengan kampanye ASI eksklusif. Jadi kemana pun mobil mereka pergi, anjuran memberikan ASI turut beredar ke mana-mana dan dibaca semua orang. Brilian! Rasanya materi pagi itu semacam memberikan pencerahan bertubi-tubi.

Siang hari, materi tentang plasenta dan penanganan fase 3 persalinan oleh Ibu Robin. Kami banyak membahas isi dari buku beliau: Placenta The Forgotten Chakra.

Sore hari ada pelajaran tambahan mengenai topik trauma oleh Katherine. Penting banget, karena trauma apa pun yang terpendam baik-baik dan dorman puluhan tahun bisa secara spontan mencuat di saat persalinan. Nah, sebagai doula, gimana dong kami menghadapinya kalau tiba-tiba mendampingi klien yang demikian? Di situlah kami menyadari betapa pentingnya penyembuhan trauma yang baik dan benar sedini mungkin. Trauma persalinan bukan hanya isapan jempol semata. Ibarat orang Islam percaya ada akhirat meskipun nggak keliatan, atau contoh lain orang Hindu percaya karmapala meski itu belum kejadian, maka kami, para doula, berpegang teguh pada kebenaran mutlak dari birth trauma dan urgensi penyembuhannya. Meski mungkin orang lain bilang birth trauma itu nonsense dan serba abstrak. Well, kan nggak semua yang tidak terlihat itu artinya nggak ada.

Minggu, 18 Maret 2012

Hari itu tidak ada materi, tapi Ibu Robin sangat antusias untuk membawa kami ke rumah penduduk desa Keliki yang mengadakan upacara penamaan bayi pada usia 42 hari. Semuanya senang banget didandani dengan sarung Bali. Buat mereka, upacara ini sangat istimewa. Buat saya sih, ini biasa-biasa saja, karena di adat Jawa atau akikahan secara Islam juga mirip-mirip kayak gini. Jadi, kalau para kawan bule itu terpesona oleh upacara adat Bali ini, saya terpesona oleh betapa terpesonanya mereka sama budaya kita. Hehe, puyeng, kan?

Kita harus bangga lho sama budaya warisan leluhur ini. Orang-orang lain buat lihat upacara adat kayak gini mesti bela-belain naik pesawat sehari semalam sampai jet lag. Lah, kita yang pemiliknya sendiri mau sok kebule-bulean, penginnya serba modern, tradisi ditinggal. Dari seluruh Indonesia, kayaknya memang orang Bali yang, menurutku, paling punya komitmen untuk menjaga tradisinya dengan setia sampai ke generasi mudanya. Saat sang pemuka adat melakukan sembahyang untuk mendoakan sang bayi dan plasentanya di pura keluarga, semua peserta berduyun-duyun pada ikut, pengin merasakan sembahyang juga. Terus, mereka satu per satu diberkati dengan ditempelkan semacam beras ketan di keningnya. Saya sama Fani melihat saja dari pinggir. Dan, di situ baru ngeh bahwa kata sembahyang itu ternyata berasal dari “Sembah Sang Hyang”. Kok, baru ngeh ya.

Setelah prosesi upacara selesai, kami disuguhi dengan air kelapa segar langsung dari batoknya. Alamak, enak banget pas panas-panas begitu, air kelapa terenak dan termanis yang pernah saya minum, suwer. Selain itu, masing-masing juga dapat satu piring kecil berisi buah-buahan, ada manggis, rambutan, dan duku. Banyak yang baru pertama kali itu mencoba buah-buahan ini. Mereka menyebutnya exotic fruits karena nggak ada di negara mereka. Manggisnya enak banget, maniiis! Alaina, yang dari Kanada, di sebelahku makan manggis sampai mendesah-desah, “Oh my God. It’s soo good… mmmh… I’m making out with my fruit. It’s orgasmic.” Saya jawab, “Oh, please, get a room,” sambil bercanda. Dalam hati, ya Alloh, Mba… pulang tanggal berapa sih? Gue bawain segepok deh dari Pasar Mayestik. LOL.

Senin, 19 Maret 2012

Hari terakhir pelatihan, tapi materi malah tambah padat saja. Berasa dikejar waktu, nih, bahasnya. Pagi hari, kami berpuyeng-puyeng sama masalah permohonan keanggotaan DONA International. Setelah pelatihan, memang kami akan menjadi certified doula, tapi belum registered DONA doula. Bagusnya, sih, cepat-cepat diurus supaya kerjanya enak dan bisa bebas berpraktik di negara mana saja di seluruh dunia. Kalau sudah teregistrasi di DONA, insya Allah kerjaan aman dan lancar, karena DONA punya kode etik dan pakem-pakem yang mumpuni dan dikenal baik oleh seluruh tenaga medis di dunia. Pe-er banget niiih… pengin cepat-cepat terdaftar.

Para pengajar juga berpesan bahwa, keluar dari sini, kami sudah menjadi seorang duta dari DONA Internasional, karena itu tolong digarisbawahi, jadilah doula di segala aspek kehidupanmu. Doula tidak hanya buat klienmu, tapi juga buat suamimu, buat anak-anakmu, buat orang-orang di sekitarmu, bahkan doula buat orang yang membenci dan menyepelekanmu. Bersikaplah layaknya seorang DONA Ambassador, jalin komunikasi yang baik dan profesional dengan dokter, bidan, maupun perawat. Ingat, tugas kami adalah to nurture and protect memories of birth, we are the birthkeepers, so act like ones. Waduh, berat ini… nggak main-main tanggung jawabnya.

Lalu, kami lompat ke topik doula dalam operasi Caesar. Hmm, makin puyeng aja yah, karena biasanya, ibu-ibu yang akhirnya harus Caesar merasa mereka gagal, feeling guilty, dan merasa tidak akan jadi ibu yang baik, dan itu terprogram di limbic imprint. Dudududu… gimana dong cara doula menginterpretasikan kondisi tersebut dengan kata-kata yang tepat? Hendaknya, kami sampaikan ke klien bahwa mereka, dan juga kita sebagai doula, telah melakukan usaha yang luar biasa. Namun, ingatlah bahwa ada saatnya kita mengalah sama keinginan sang janin dan ketentuan Allah Yang Maha Kuasa. Sejatinya, operasi Caesar adalah juga penemuan yang luar biasa di sejarah kehidupan manusia, dan telah menyelamatkan banyak jiwa ibu dan bayi yang benar-benat membutuhkan. So, kenapa harus ragu bila cesar adalah jawaban yang paling tepat untuk kondisi ini? Selama dari awal kita sudah mengikuti alur persalinan natural lho, ya.

Untuk Caesar yang benar-benar emergensi dan sesuai indikasi, ke sananya masih bisa terbayarkan dengan pengasuhan penuh kasih, ASI ekslusif, natural & conscious parenting, dsb. Unnecessary dan elective Caesarian pada perempuan risiko rendahlah yang masuk ke dalam praktik Caesar yang overused dan nggak benar. Jenny, satu-satunya dokter kandungan di group kami, berkata, saat dia melakukan operasi Caesar, selalu ada iringan musik yang keluar dari speaker di pojok ruangan operasinya dan aromaterapi lavender yang dipasang. Haduuh, IRIII… kapan di Endonesah bisa begitu semua Tuhaan? *curcol*

Siang hari, kami berkumpul dan menyatukan tekad untuk bersama membawa perubahan di komunitas kami masing-masing, menghidupkan kembali kekuatan persaudaraan perempuan untuk saling melindungi dan menguatkan. Bersama kami ingin sembuhkan bumi ini dari memori-memori buruk dan menyakitkan tentang persalinan. Kamilah para doula, yang terlahir untuk mencintai saudari-saudari kami di dunia. Semoga niat dan jalan kami dibukakan.

Sertifikat dibagikan, sesi foto bersama, lalu sesi penutupan, kembali kami membentuk lingkaran persaudaraan sambil bergandengan tangan, masing-masing mengungkapkan perasaan dan harapannya dalam beberapa kalimat. Semua merasa semangat, haru, tersembuhkan, bahagia, tercerahkan. Saya pas banget dapat giliran terakhir di lingkaran, dan tepat saat giliranku… aku malah membuka tas kantong yang sudah saya siapkan sebelumnya, dan mengeluarkan barang-barang di dalamnya untuk dibagi-bagikan dengan heboh ke beberapa orang, hehe, ini daftarnya:

  • serundeng untuk Ibu Robin dan grupnya Christina yang akan stay sampai Nyepi, susah cari lauk selama Nyepi nanti.
  • kain batik gendongannya Yusuf buat Chiara yang dari kemarin mengagumi cara Mbak-ku menggendong Yusuf selama ini, sampai difoto-foto segala. Kubilang, gunakan kain ini sebagai rebozo untuk setiap klienmu, Chiara. Mudah-mudahan lancar (dengan pesan tambahan” jangan lupa dicuci dahulu ya, karena ini ilernya Yusuf semua).
  • bros bunga carnation untuk Kimmie dari Australia yang bolak-balik memuji bilang bros ini lucu sejak beberapa hari kemarin,
  • syal tie dye warna-warni buat Anna dari Rusia. Kami sudah sering tidur sebelahan selama materi, kadang aku merapat di bokongnya atau sebaliknya,
  • syal pasmina glitter buat Lauren. Lauren sudah begitu baik selama pelatihan, dia mengayomi semuanya padahal usianya masih muda. Dia yang mengambilkan air putih buat pembicara, dia yang maju duluan kalau ada masalah teknik di slide proyektor, dan Debra jadi sedikit panik karena gaptek, dia selalu jadi sukarelawan kalau kami disuruh maju ke depan. Lauren is our Miss Congeniality doula.
  • bros kembang warna krem buat Jane yang sayang banget sama Yusuf,
  • bandul pendulum berbentuk hati buat Amy, si doula sangar asal Sweden, biar praktik hypnobabies-nya makin sukses.
  • satu pendulum berbentuk hati lagi buat Debra.
  • dan bros lainnya untuk Katherine,
  • dan nggak lupa, bros buat Yasmin, yang akan melakukan perjalanan jadi relawan ke seluruh dunia. Nggak apa-apa gue nggak bisa ikut, biar bros gue aja deh yang ikut menyaksikan.

Heboh banget buru-buru ngasih satu-satu sambil minta maaf karena sudah sore takut menghabiskan waktu. Semua kontan tertawa, hihi. Aku pengin, ke mana pun mereka pergi, ada spirit dan cintaku yang menyertai mereka ke mana-mana. Judulnya, ini dukun bagi-bagi jimat tampaknya.

Dan aku pun pergi ke Denpasar meninggalkan mereka semua, bersiap mengejar pesawat paling pagi keesokan Subuh-nya. Meninggalkan Swasti dengan kesan alami dan gigitan nyamuknya yang benar-benar natural. Meninggalkan aroma dupa citronella pengusir nyamuk yang dipasang di sudut-sudut ruangan, serta semerbak harum Neem Lotion yang dipakai semua peserta untuk menghindari gigitan nyamuk Ubud. Meninggalkan Ibu Robin dan sepeda merahnya yang begitu legendaris, tapi entah kenapa nggak ada yang mau nyuri. Meninggalkan Bumi Sehat yang akan terus terjaga, the clinic who never sleeps, dan orang-orangnya yang baik luar biasa. Meninggalkan sekeping hati dan cintaku, yang aku tahu selalu akan stay di Bali dan Bumi Sehat, yang tetap akan memanggil-manggilku untuk selalu kembali. Meski mungkin nanti aku bisa melayani puluhan klien, tetap aku nggak bisa lupa perjalanan awalku di sini.

Selasa paginya, saya sudah tiba di rumah memeluk Baim yang sudah 9 hari ditinggal dengan baik dan jadi anak manis. Dan, tiba-tiba aku kangen semuanya untuk bisa berulang lagi (˘̩̩̩⌣˘̩̩̩)

So, thank u again semuanya. Doakan saya segera dipertemukan dengan klien pertama saya, dengan Obgyn pertama saya, dengan bidan pertama saya, dengan homebirth pertama saya, dengan hospital birth pertama saya, dengan jodoh-jodoh persalinan saya….

Namaste

Wassalam

Hanita Fatmawati – doula gentle birth, kontributor gentlebirthindonesia.com