Manusia selalu bergerak mengikuti arah perubahan hidup. Arus kesadaran baru yang membanjiri dunia persalinan belakangan ini telah banyak membawa pengaruh di berbagai segi kehidupan. Kelompok medis, masyarakat awam, maupun media massa melakukan adaptasi lewat caranya masing-masing. Kini, makin banyak ibu hamil yang mampu melakukan persalinan lembut yang dulu mungkin dianggap langka dan luar biasa. Makin banyak bidan, dokter, atau Rumah Sakit yang lebih fleksibel dalam memberikan toleransi pada permintaan para pasiennya.

Ketika suara masyarakat semakin didengar, penyedia jasa mau tidak mau ikut berkembang mengikuti permintaan pasar yang ingin lebih memegang kendali atas tubuh dan persalinannya sendiri. Namun, arus perubahan ini juga ternyata menyisakan satu tempat tersendiri bagi mereka yang merasa terabaikan. Kita dapat menyebutnya sebagai the secret society. Mereka yang digariskan mengalami persalinan sebelum era perubahan ini datang. Mereka yang tanpa kuasa harus mengalami persalinan traumatis tanpa bisa berbuat apa-apa. Melihat kondisi sekarang yang sudah berubah malah kadang tidak membuat mereka merasa lebih baik. Malah mereka lebih merasa menyesal, bersalah, dan gagal akan persalinan terdahulu; yang pada akhirnya beberapa menunjukkan respons skeptis terhadap prinsip Gentle Birth.

Sesungguhnya respons-respons tersebut muncul sebagai wujud ungkapan akan trauma persalinan yang dialaminya sendiri. Beberapa hanya bisa berharap andai saja waktu dapat diputar kembali dan mereka tahu bahwa mereka punya beberapa pilihan untuk menentukan nasibnya sendiri: “Kalau saja persalinan saya jauh lebih nyaman, mungkin relasi saya dengan anak saya bisa lebih baik”, “Kalau saja saya bisa melahirkan dengan cara normal, saya tak perlu melewati masa pemulihan yang begitu panjang dan membuat frustasi”, dsb. Tapi, bagaimanapun waktu tidak bisa diputar kembali.

Sebanyak apa pun persiapan kelahiran yang dilakukan seseorang, tidak ada yang bisa menjamin 100% bahwa persalinannya akan persis seperti apa yang diharapkannya. Bisa jadi, buah kebaikan serta usaha yang sudah dilakukan baru dapat dipetik di persalinan selanjutnya. Bisa jadi, outcome persalinan yang tidak optimal adalah hasil dari benih kekurangan orang tersebut di waktu lampau. Manusia hanya bisa berusaha, tapi tetap Tuhan yang menentukan.

Turut merasa bahagia akan keberhasilan orang lain dengan tulus memang bukan hal yang mudah dilakukan apabila riwayat kita dahulu berlaku sebaliknya. Misalnya, berita dari seorang rekan yang telah melahirkan lembut dengan waterbirth akan menimbulkan suatu dilema karena kita harus memberi ucapan selamat yang terasa kelu di lidah, terasa getir di hati. Rasa menyesal yang tidak terungkapkan karena kita pernah gagal akan membuat batin kita semakin tertekan dari hari ke hari. Sungguh berat menyimpan pengalaman pahit yang berlarut-larut mengikuti kehidupan kita.

Bila itu terjadi pada Anda, maka hal yang paling baik dilakukan pertama adalah pengakuan tanpa mendiskreditkan diri atau justru sebaliknya, pembenaran diri. Ceritakan pengalaman melahirkan Anda kepada seorang pendengar yang baik, atau seorang terapis yang terpercaya. Ceritakanlah secara lengkap dan tulus tepat sebagaimana yang Anda rasakan, bukan seperti yang ingin anda rasakan.

Kedua, lakukan terapi penyembuhan yang aksesnya tersedia di tempat Anda tinggal. Ada banyak terapi yang bisa bermanfaat seperti Tapas Acupressure Technique, meditasi, bach flower remedies, hypnotherapy, konseling dll.  Pilih yang sesuai dengan kebutuhan dan tersedia akses belajarnya di lokasi Anda.

Ketiga, lakukan penerimaan. Menerima dengan hati dan dengan seluruh sel di tubuh kita, bukan dengan ucapan semata.

Keempat, kadang penyembuhan ini bisa pula tercapai dengan menghadiri sebuah persalinan lain yang berlangsung lancar. Beberapa wanita mengakui setelah ikut menyaksikan sebuah persalinan yang indah, mereka merasa lebih bahagia, lebih lega, dan merasa telah menuntaskan tugas yang belum selesai di batin mereka. Saat ini, sudah ada beberapa bidan yang bersedia untuk menyertakan satu ibu dengan pengalaman traumatis untuk ikut menghadiri persalinan pasien-pasiennya. Bidan tersebut menceritakan betapa orang-orang ini bisa menjadi sangat penyayang dalam memperlakukan pasiennya layaknya seorang doula. Saat bayi akhirnya lahir dengan lembut, air mata haru keluar dengan derasnya, dan dia yakin itu adalah airmata kesembuhan.

Kelima, perbaiki relasi dengan Anak anda yang dulu dilahirkan dengan cara yang menurut Anda kurang lembut. Biasanya bila masalah di batin Anda telah selesai, masalah di relasi Anda pun akan selesai mengikuti sumbernya.

Keenam, kirim energi maaf dan cinta yang sebesar-besarnya untuk orang-orang yang dirasa pernah menyakiti Anda saat persalinan. Ibu Robin Lim tidak pernah merasa lelah untuk mengulang-ulang kata CINTA di setiap pengajarannya. Cinta adalah sumber dari segalanya, kekuatan adidaya yang menyuntikkan keajaiban di mana-mana. Kita semua diliputi cinta yang tak berkesudahan. Limpahilah diri kita sendiri dengan cinta maka luka batinpun akan sembuh.

Saat memori akan pengalaman getir di masa lalu akhirnya mampu terlampaui, tetap Anda perlu terus menjaga hidup kita secara sadar. Selalu pastikan Anda mendapatkan dukungan dari orang-orang di sekitar yang terus meyakinkan bahwa Anda bukanlah si pecundang gagal.  Kita semua hanya sedang dalam perjalanan menyembuh.

Hanita Fatmawati - doula gentle birth, kontributor gentlebirthindonesia.com