Di sebuah ruangan yang temaram di tengah perkampungan asri di tepi Jakarta, seorang bidan melakukan pemeriksaan detak jantung janin pada pasiennya yang sudah melewati fase laten persalinan selama lebih dari 24 jam. Alat doppler menunjukkan detak jantung 137 kali per detik, pertanda bayi yang ada di dalam rahim dalam kondisi sehat dan baik-baik saja. Bidan itu lalu mengajak bayinya berbicara, mengelus-ngelusnya dari luar perut, mengucap doa dan afirmasi positif. “Ayo, Dek, anak pintar, bantu mamamu ya, Nak, agar kontraksi semakin kuat.” Tak tampak sedikit pun keraguan di wajahnya. Berulang kali kata-kata pujian “anak pintar”, “kerjamu bagus sekali”, sengaja dilontarkan untuk memancing semangat janin. Berulang kali pula ia menggoda sang bayi dengan menggelitiki perut ibunya. Bidan ini tahu pasti, janin bisa mendengar dan merasa. Bahkan janin bisa merasakan elusan di luar perut ibunya sebagai sensasi sentuhan langsung di kulitnya.

“Yang tipe begini ini banyak, Mbak. Persalinan itu macam-macam. Tidak melulu kejadian datang ke bidan lalu beberapa jam kemudian lahir. Selama ketuban belum pecah dan detak jantung janin bagus, ya, kita ikuti saja maunya si bayi,” kata bidan itu lagi. Sang ibu akhirnya kembali tenang dan bisa beristirahat.

Empat puluh delapan jam kemudian, bayi tersebut baru lahir dengan sehat dan lembut di air. Tubuhnya yang montok membuatnya harus berupaya lebih lama untuk keluar ke dunia. Sang bidan menangani kelahiran plasenta dengan alami, tanpa suntikan oksitosin.

“Plasenta itu di ranah normalnya bisa lahir sendiri. Kalau masa kontrak kerjanya sudah habis, dia keluar sendiri mengikuti kontraksi rahim.” Dan, benar, plasenta keluar dengan mudahnya seperti meluncur saja. Rembesan darah yang mengikutinya berhenti setelah bayi menyusu pada ibunya. Satu perangkat hubungan sebab-akibat yang menakjubkan. Plasenta telah menghidupi bayi selama 9 bulan, dan lalu bayi seperti balas budi merangsang keluarnya plasenta dengan menyusu.

Sungguh indah melihat pemandangan itu. Betapa perlakuan seorang penolong persalinan bisa begitu lembutnya pada bayi yang bahkan belum lahir.  Penolong yang sabar, memperlakukan janin sebagai manusia utuh sama seperti dirinya.

Kearifan seorang penolong persalinan sebenarnya tidak terikat oleh tempat dan jabatan—apakah dia seorang perawat, bidan, maupun dokter, dan di manapun dia berpraktik—sesungguhnya semua memiliki kemampuan tinggi untuk terhubung dengan energi persalinan yang sakral. Di manapun persalinan itu terjadi. Semua tempat akan terasa seperti rumah bagi pasien apabila insan-insan penolong yang ada di dalamnya memiliki hati yang damai.

Seorang ibu hamil yang terhubung baik dengan tubuh dan batinnya akan menghasilkan satu persalinan yang indah. Bayangkan apabila kesadaran ini juga merambah pada pihak medis yang menolong persalinan. Seorang dokter atau bidan yang terhubung baik dengan tubuh dan batinnya akan menghasilkan ratusan persalinan yang indah.

Dan, bagaimana bila yang satu itu berkembang menjadi ratusan dokter? Ribuan dokter? Sungguh kita hanya bisa membayangkan sebuah tatanan kehidupan yang sejuk dan damai di masa mendatang. Tak terbayang betapa besarnya potensi, kreasi, dan relasi  mengagumkan yang bisa dihasilkan oleh anak cucu kita.

Selalu jadikan satu pesan Ibu Robin Lim ini sebagai nafas praktik anda, bahwa kita harus menghormati setiap bayi yang kita bantu lahirkan, seolah-olah ia adalah bayi Muhammad, bayi Kristus,  bayi Buddha, atau siapa pun nabi anda. Dengan kesadaran seperti ini, setiap penolong persalinan pasti akan sangat bersyukur akan kedalaman makna profesinya dibanding profesi yang lain, dan mau memasukkan cinta ke dalam setiap standar prosedur operasionalnya.

Hanita Fatmawati – doula gentle birth, kontributor gentlebirthindonesia.com