Jika melihat ke belakang, saya tidak siapa yang harusnya merasa lebih beruntung bertemu siapa. Ridha Vidyana, menemui saya dan Reza, bulan Oktober 2010. Ridha yang sudah memasuki usia kehamilan 35 minggu, mengungkapkan minatnya untuk melakukan Gentle Birth bagi anak pertamanya.

Bagi saya dan Reza, pertemuan itu adalah kesempatan yang luar biasa. Kami melihat Ridha sebagai sosok yang langka. Seorang ibu muda, akan melahirkan anak pertama, di tengah arus umum masyarakat modern yang memandang kelahiran sebagai peristiwa medis, berani memantapkan diri untuk melakukan metode persalinan yang tidak konvensional. Saya semakin tercengang ketika tahu bahwa Ridha bersuamikan seorang dokter.

Ketika persalinan telah menjadi industri, dipraktikkan secara seragam dalam prosedur yang hampir mekanistis, keberanian individu-individu untuk melakukan sesuatu di luar jalur, adalah berkah besar bagi kita semua. Meski diawali dengan niat personal yakni mempersembahkan yang terbaik bagi anak dan preferensi kenyamanan, secara tidak langsung mereka menunjukkan pada kita semua bahwa ada jalan lain. Ada cara lain untuk menghadirkan manusia baru ke Bumi ini. Cara yang sudah ada dari sejak manusia ada. Namun seringkali kita lupakan.

Saya merasa beruntung bisa mengenal Ridha secara langsung, mewawancarainya, dan diizinkan untuk berbagi kisah persalinan putri pertamanya, Alvenanshula Haunaisha Farhanna Putri Jazan. Lahir pada hari Selasa, 16 November 2010, dengan berat lahir 3,3 kg dan tinggi 50 cm, manusia mungil bernama Shula keluar dari rahim ibunya, meluncur ke dekapan ayah, dalam atmosfer kehangatan rumah keluarganya.

Sebagai gerbang kehidupan terbesar yang bersanding lurus dengan kematian, secara alamiah peristiwa kelahiran memiliki kekuatan menggerakkan yang amat dahsyat. Dan ketika sebuah persalinan berjalan dengan begitu sederhana, naluriah, apa adanya, kita justru diingatkan oleh kebesaran alam dan desainnya yang agung.

Semoga pembicaraan saya dengan Ridha di bawah ini mampu menjadi pengingat yang baik bagi kita semua.

Dee: Bagaimana awalnya kamu mengetahui soal Gentle Birth?

Ridha: Mulanya ketika usia kehamilan sekitar 3 bulan, aku pernah membeli buku tentang melahirkan dengan metode hypnobirthing yang ditulis berdasarkan pengalaman pribadi sang penulis. Dari situ aku baru tahu bahwa melahirkan bisa dialami tanpa rasa sakit, bahkan dengan tenang dan menyenangkan. Sejak dahulu aku memang sangat mendambakan bisa melahirkan dengan normal dan kalau bisa tanpa mengalami sobekan (tanpa jahitan) sama sekali, makanya aku tertarik sekali untuk mengetahui metode-metode melahirkan yang penuh kenyamanan semacam hypnobirthing dan sejenisnya.

Pada saat itu aku belum pernah mendengar sama sekali tentang Gentle Birth, atau pun Water Birth. Sempat mencari tahu juga dari tanya-tanya, baca buku dan browsing di internet, tapi saat itu belum dipertemukan tentang info Gentle Birth atau Water Birth di Jakarta. Maka sebagaimana lazimnya, kami pun merencanakan untuk melahirkan di rumah sakit, walau tetap dengan keyakinan bulat untuk melahirkan secara normal dengan menerapkan beberapa teknik hypnobirth yang aku baca (dan kalau bisa tanpa jahitan). Untuk itu aku berusaha bersiap diri dengan latihan pregnancy yoga di rumah, olahraga (jalan) pagi, visualisasi dan banyak berdoa, serta sesekali latihan meditasi sambil mendengarkan CD guided relaxation.

Sampai suatu hari ketika usia kehamilan sekitar 7 bulan, aku dan suami yang sedang mencari berbagai video birthing di Youtube, menemukan sebuah video tentang Gentle Birth yang menampilkan seorang ibu di Australia yang sedang melahirkan di sebuah kolam berisi air di rumahnya dengan sangat hening. Tanpa teriakan, dia dengan tenang mengeluarkan sendiri bayinya dari dalam air. Itulah pertama kalinya kami melihat suatu proses Gentle Birth di rumah, yang pada saat itu sangat mengejutkan dan membuat kami terheran-heran sekaligus penasaran. Di video itulah kami mengenal istilah Gentle Birth pertama kali. Kami pun dengan curious mencari tahu lebih lanjut segala informasi tentang Gentle Birth, Water Birth, dan Home Birth.

Dalam pencarian inilah kami menemukan e-book tentang kisah Gentle Birth-nya Mbak Dee dan Mas Reza. Jujur, saya merasa sangat beruntung dipertemukan dengan e-book tersebut, karena dari situ kami mendapat banyak pintu informasi yang terbuka, yang menjadi titik terang bagi usaha pencarian metode persalinan yang kami dambakan.

Waktu itu kami berpikir, Subhanallah, ini dia yang kami cari. This is exactly the way of giving birth that we dream of: normal, di rumah, sangat alami, tenang, sakral dan indah. Bahkan tanpa bantuan dokter dan bidan.

Sejak pertama kali membacanya aku begitu tersentuh, sekaligus excited dan sangat tertarik dengan kemungkinan bagi kami mengalami Gentle Birth yang sama. Kami pun melanjutkan pencarian, mulai dari menonton film-film dokumenter seperti Birth As We Know It, The Business of Being Born, Orgasmic Birth, sampai mencari video di YouTube, artikel di website, dan lain sebagainya.

Tidak lupa, aku mengirim e-mail kepada Mas Reza karena selain ingin menyampaikan rasa terima kasih atas sharing-nya, juga karena bagaimana pun di benak kami masih begitu banyak pertanyaan dan kebingungan yang ingin segera terjawab tentang Gentle Birth ini.

Syukurlah, beberapa hari kemudian Mas Reza menanggapi e-mail kami dan akhirnya kami berbincang via telepon. Kami sangat bahagia karena satu dari sedikit sekali pasangan yang (setahu kami) sudah berhasil melakukan Gentle Birth di Indonesia telah bersedia berbagi dan menolong dengan sangat ramah, sehingga jalan kami pun semakin dimudahkan.

Esoknya, kami menemui Mas Reza dan Mbak Dee di klinik Mas Reza untuk sharing secara langsung dan lebih lanjut tentang pengalaman Gentle Birth. Saat itu usia kehamilanku sekitar 32 atau 33 minggu. Pertemuan itu sangat berkesan bagi kami, saya banyak bertanya dan ditanggapi dengan sharing yang begitu bersemangat dan menginspirasi dari Mas Reza dan Mbak Dee. Mendengar dan bertemu langsung dengan pasangan yang telah lebih dulu melakukan Gentle Birth dengan sukses tentu memberi semangat dan dorongan yang amat berarti bagi kami. Pada hari itu juga Mas Reza memberikan CD berisi video pregnancy taichi, audio calm-birth untuk relaksasi & afirmasi, serta beberapa cuplikan video tentang gentle birth oleh Michael Odent dan Ina May Gaskin. Sangat besar manfaatnya bagi saya yang harus “kejar tayang” persiapan menjelang Gentle Birth kami yang tinggal beberapa minggu.

Dee: Gentle Birth bukanlah metode yang konvensional saat ini, bahkan mungkin dari sudut pandang medis modern, terbilang cukup kontroversial. Apalagi untuk kelahiran pertama yang seringkali mengundang kecemasan ekstra, baik dari pihak keluarga maupun calon ibu-ayah sendiri. Apa yang membuat kamu tertarik untuk menjajaki metode Gentle Birth bagi kelahiran pertama ini?

Ridha: Sejak awal kehamilan, sebagaimana para calon orang tua yang lain, kami memang bertekad ingin memberikan segalanya yang terbaik bagi anak, yang bahkan dimulai sejak masa kehamilan dan persalinannya. Dari sekian banyak metode persalinan yang ada, jauh di lubuk hati sebenarnya kami mendamba proses persalinan yang sealami mungkin dan kalau bisa yang memberi dampak terbaik bagi anak dan ibunya.

Nah, begitu membaca e-book Mbak Dee & Mas Reza, aku serasa menemukan cara persalinan yang selama ini kami impikan. Dengan kata lain, so far, menurut kami inilah metode melahirkan yang terbaik bagi Sang Anak. Jiwaku tersentak sekaligus tersentuh dengan suatu kesadaran dan pengetahuan baru yang sebenarnya sangat kodrati, dan karenanya terasa begitu “benar” (feels so right). Saking tersentuhnya, aku sampai meneteskan air mata. Gentle Birth sangat natural atau kembali ke fitrah, sangat tenang, tanpa paksaan, meditatif bahkan spiritual. Tidak hanya melibatkan jasmani tetapi ruhani dan nafsani kita. Aku juga sangat setuju dan tersentuh dengan berbagai sharing pemikiran serta pengalaman indah Mbak Dee tentang Gentle Birth, terutama bahwa pengalaman Gentle Birth ini bukanlah sekedar tentang kenyamanan Sang Ibu dalam melahirkan, tetapi adalah salah satu persembahan terbaik kita bagi buah hati, yang memengaruhi kualitas berbagai aspek hidupnya, sepanjang masa.

Jadi, tekad untuk memberi pengalaman melahirkan yang terindah dan terbaik bagi anak titipan Tuhan inilah yang membuat kami begitu semangat untuk menjajaki metode Gentle Birth.

Juga, yang sangat signifikan kami rasakan adalah dukungan secara langsung maupun tidak langsung yang diberikan oleh Mas Reza & Mbak Dee. Persahabatan, pertemuan, perbincangan dan konsultasi dengan Mas Reza dan Mbak Dee sangat meningkatkan keyakinan kami untuk optimis menjalani persalinan ini di rumah. Semakin mendekati hari persalinan, seiring bertambahnya waktu kami melanjutkan riset tentang Gentle Birth, semakin tumbuh keyakinan bahwa inilah metode yang paling baik bagi kami, dan bahwa sama seperti mereka yang sukses melakukan Gentle Birth, kami pun pasti sanggup melakukannya.

Dee: Suami Ridha adalah seorang dokter medis. Terus terang ini sangat menarik, karena Gentle Birth bukan praktik yang lazim dalam dunia medis. Bagaimana dukungan suami dan keluargamu? Bagaimana caranya kamu meyakinkan mereka atas pilihanmu ini?

Ridha: Saya sangat beruntung dikaruniai suami yang sejiwa, yang selalu memberi kepercayaan yang besar dan bersikap sangat mendukung apa pun yang terbaik bagi istri dan anaknya. Sebagai seorang dokter, sikap beliau sangat open-minded terhadap informasi dan pengetahuan baru, yang tentunya kadang sangat berbeda dengan apa yang beliau pelajari dalam ilmu kedokteran pada umumnya. Justru, berangkat dari niat kami berdua sebagai orang tua baru yang ingin melakukan yang terbaik bagi buah hati, dari awal suamilah yang mendorong saya melakukan riset tentang Gentle Birth dan Home Birth sebanyak-banyaknya. Untungnya, era informasi memungkinkan kita mengedukasi diri kita sebaik-baiknya dengan memanfaatkan teknologi yang ada.

Setelah kami berdua akhirnya memutuskan untuk melakukan metode persalinan Gentle Birth, barulah saya bicarakan dengan keluarga terdekat, pertama-tama ke ibu saya.

Awalnya mereka sempat ragu karena hal ini benar-benar baru bagi mereka. Sebelum mengetahui seluk beluk tentang Gentle Birth, termasuk alasan dan manfaatnya, wajar jika mereka merasa tidak berani karena dirasa ekstrem dan berisiko tinggi. Maklum, ini cucu pertama mereka, maka mereka agak khawatir dan ingin mengusahakan apa pun yang terbaik bagi kami dan sang bayi. Tapi, akhirnya orang tua saya mendukung dan memberi kepercayaan penuh pada saya dan suami.

Saya beruntung memiliki ibu yang juga open-minded dan percaya pada anaknya, jadi mudah bagi saya untuk mengedukasi beliau. Setelah menjabarkan niat bulat dan alasan keputusan kami, kami memberikan berbagai informasi yang diperlukan dari kumpulan hasil riset kecil kami tentang metode persalinan ini. Kepada Mama, saya juga memberi salinan e-book Mbak Dee dan Mas Reza, film Birth As We Know It, dan beberapa video dari YouTube.

Mengingat waktu kelahiran yang semakin dekat dan demi menghindari perdebatan yang tidak perlu, kami hanya memberi tahu soal persalinan Gentle Birth ini hanya kedua orang tua dan adik saya saja. Pada keluarga lain, terpaksa hanya kami beritahukan akan melahirkan di rumah sakit secara Water Birth, atau tidak kami beritahu sama sekali. Setidaknya sampai anak kami lahir nanti.

Dee: Apakah sulit menemukan fasilitas atau tenaga pendukung untuk mewujudkan Gentle Birth? Bagaimana kamu mengatasi kesulitan-kesulitan tersebut?

Ridha: Meski sejak membaca e-book Mbak Dee kami sudah sekitar 80% memutuskan akan melakukan Gentle Birth dalam air dan dilakukan dengan nyaman di rumah alih-alih di rumah sakit, kami tetap melihat-lihat fasilitas di RS Bunda dan Klinik Sam Marie yang memang sudah sering melakukan praktik Water Birth. Siapa tahu suasananya cukup mendukung Gentle Birth yang kami idamkan, dan orang tua kami juga bisa sedikit lebih tenang karena dilakukan di rumah sakit berpengalaman. Namun setelah melihat-lihat dan bertanya-tanya pada dokter, bidan, dan para suster di sana, kami justru semakin mantap ingin melakukan persalinan di rumah, di mana suasana Gentle Birth idaman kami yang tenang, intim, santai dan terutama tanpa risiko intervensi medis yang tidak perlu, dapat diwujudkan.

Sebagai ibu yang melahirkan nanti, saya ingin sayalah yang memegang kontrol penuh atas diri saya sendiri (tanpa interupsi dokter Obgyn atau bidan). Saya yakin Pencipta kita memang telah mendesain sempurna dan memberi kemampuan bagi setiap wanita untuk melahirkan dengan sealamiah mungkin, tinggal kita mau berserah diri dan mengikuti intuisi atau naluri (insting) kita.

Saya ingin, dalam salah satu peristiwa terpenting bagi saya, juga bagi suami dan bayi kami ini, saya benar-benar menikmati setiap detiknya, menghayati setiap tekanan kontraksi, merasakan setiap sensasi dengan seindah mungkin.

Saya ingin suasana ruang melahirkan nanti begitu intim, damai dan membuat saya dapat berdzikir, berkonsentrasi sekaligus rileks, dengan lampu temaram, cahaya lilin, alunan musik instrumental, bunga segar atau aromaterapi, bahkan kalau perlu yang memungkinkan saya memandang langit dan menikmati udara terbuka dari taman yang segar. Saya ingin hanya orang-orang tercinta, jika perlu hanya suami atau ibu saya, yang berada di sisi ketika saya melahirkan. Semua itu hanya dapat diwujudkan di tempat di mana saya dapat merasa benar-benar nyaman dan familiar. Bagi kami, itu sulit terjadi di rumah sakit. Selain itu saya tidak ingin, dalam kondisi fisik dan mental yang rentan di tengah kontraksi nanti, faith kami bahwa saya mampu melahirkan dengan berserah sepenuhnya hanya kepada Tuhan akan terpengaruh intervensi luar yang tak perlu, atau mengikuti prosedur rumah sakit karena diburu waktu, misalnya. Intinya, kami ingin memberikan suasana yang sedamai dan seintim mungkin untuk bayi kami di menit-menit pertamanya memasuki dunia baru di luar rahim.

Kami sempat bingung masalah bidan, karena bisa dibilang pada saat itu di Jakarta belum ada bidan yang bersedia dan biasa membantu Water Birth di rumah. Kalau di Bali mungkin banyak. Ada dua nama bidan yang direkomendasikan Mas Reza untuk saya hubungi, yaitu Bidan Brenda Ritchmond dan Bidan Budi. Namun keduanya ternyata tidak memungkinkan dan berhalangan membantu karena sedang bertugas di Malang dan Bali. Waktu itu, saya pun terlalu mendadak menghubungi mereka (kira-kira di usia kandungan 38 minggu). Akhirnya mereka hanya memberi doa dan dukungan lewat telepon.

Sebenarnya kami sangat terinspirasi dan agak tenang mengingat pengalaman Mbak Dee dan Mas Reza yang berhasil melakukan persalinan tanpa bidan, dengan hanya berserah dengan tenang dan faithful pada proses alam. Hal itu membuat kami cukup yakin bahwa kami pun seharusnya mampu melakukannya. Namun demikian, kami tetap melakukan persiapan dengan meminta bantuan seorang bidan muda yang kami kenal dengan sangat baik, bernama Bidan Meima. Bidan Meima memang sangat berpengalaman dan berjam terbang tinggi di RS Bersalin tempatnya bekerja. Tapi tentu saja Bidan Meima belum pernah membantu proses Water Birth, di rumah pula.

Lewat pembicaraan di telepon dengan Bidan Meima, kami mengungkapkan informasi awal tentang Gentle Birth dan keinginan kami untuk melakukannya di rumah. Kami pun yakin Bidan Meima orang yang tepat karena sikapnya yang juga open-minded dan sangat suportif. Ia sangat sabar, tenang, tapi juga bersemangat untuk menjajaki pengalaman baru ini.

Kami pun mengundang Bidan Meima ke rumah. Setelah membicarakannya dari hati ke hati dan melihat hasil riset kami, Bidan Meima menyatakan kesediaannya untuk mendampingi sebagai bantuan cadangan dalam persalinan. Ia percaya melihat kebulatan tekad dan keyakinan kami, terutama saya sebagai ibu sebagai orang yang akan melakukan proses melahirkan nanti.

Setelah mantap memutuskan untuk melahirkan di rumah, kami mempersiapkan segala peralatan dan perlengkapannya sebaik mungkin. Mas Reza membantu dengan memberi birth list yang tinggal kami lengkapi pengadaannya. Tapi, di atas segalanya, yang terpenting adalah menyiapkan batin/mental saya selaku “pemeran utama” agar tetap tenang, yakin, berserah dan percaya bahwa semua akan berjalan lancar. Didukung dengan olahraga, asupan gizi, istirahat serta pemeriksaan USG di usia kandungan 37 minggu untuk memastikan posisi bayi sudah sempurna. Kami tetap menyiapkan rencana darurat dengan mendaftar di RS Ibu Anak terdekat dari rumah, jikalau terjadi hal diluar perkiraan.

Dee: Nah, sekarang mengenai proses persalinannya sendiri. Bolehkah diceritakan proses persalinannya?

Ridha: Awalnya, saya dan suami memutuskan untuk melahirkan di rumah kami di Cinere, karena selain lebih nyaman bagi kami, juga lokasinya yang hanya sekitar lima menit dari rumah sakit. Orang tua pun sudah setuju dan segalanya sudah dipersiapkan—ruangan, birth pool, dan segala perlengkapan pendukungnya. Namun entah mengapa, tiba-tiba saja orang tua saya berubah pikiran di detik-detik terakhir, dan meminta dengan sangat agar kami melahirkan di rumah mereka saja di Cipete. Mungkin dengan masukan dari nenek saya juga yang juga tinggal bertetangga dengan orang tua, bagi mereka lebih menenangkan jika saya melahirkan di rumah orang tua dengan segala pertimbangannya.

Kami pun akhirnya memutuskan untuk menuruti kemauan orangtua. Dua hari sebelum hari perkiraan kelahiran, semua peralatan persiapan persalinan dipindahkan ke rumah Cipete dan orang tua saya pun membantu menyiapkan kamar saya di sana untuk ruang persalinan nanti.

Saya dan suami masih tinggal di Cinere sampai malam hari sebelum esok paginya bayi kami lahir.

Tanggal perkiraan kelahiran bayi kami adalah hari Rabu tanggal 17 Nov 2010. Tapi karena ini anak pertama, saya pikir mungkin bayi kami akan lahir sedikit lebih lama.

Suatu pagi, hari Senin tanggal 15 Nov 2010 sekitar pukul 07.00, kami menemukan sedikit flek berwarna merah muda di celana saya. Kami sangat bergembira dan excited, jangan-jangan tidak lama lagi kami akan bertemu dengan bayi kami, mungkin dalam dua hari ke depan. Suami saya tetap berangkat bekerja karena saya belum mengalami kontraksi sama sekali. Kami hanya menghubungi bidan kapan pun saya ada pertanyaan.

Sekitar pukul 9 pagi, saya mengalami kontraksi palsu (kontraksi Braxton-Hicks) yang masih tidak teratur. Ketika kontraksi datang, saya hanya menikmati detik-detik penantian hadirnya bayi kami itu sambil mengambil posisi senyaman mungkin, duduk di atas birth-ball atau memutarkan panggul sambil berdiri bertopang pada tongkat. Selebihnya sata beraktivitas seperti biasa.

Sekitar pukul 1 siang, suami saya sengaja pulang cepat kembalike rumah. Kami pun beristirahat sambil mempersiapkan kemungkinan berangkat ke rumah orang tua saya.

Sekitar pukul 7 malam kami memutuskan untuk berangkat saja ke rumah orang tua saya, meskipun belum ada kepastian kapan bayi kami akan lahir karena kontraksi masih tidak teratur dan mungkin saja hanya kontraksi palsu. Pikir kami, kalaupun ternyata bayi kami belum waktunya lahir, kami bisa kembali ke Cinere esok harinya. Saat itu kami tidak menyangka bayi kami akan lahir esok paginya.

Setelah tiba di rumah orang tua saya, kira-kira pada pukul 8 saya dan suami memutuskan untuk berjalan- jalan kaki sebentar di lingkungan sekitar rumah untuk membantu melancarkan jalan lahir. Sekitar pukul 9 malam kontraksi mulai meningkat intensitasnya. Di rumah, suami dan orang tua saya pun mempersiapkan seluruh peralatan persalinan, seperti set-up kolam, menyiapkan tap connector, selang dan sebagainya. Ibu saya mulai menyiapkan bunga-bunga segar kesukaan saya di kamar. Ketika kontraksi datang, saya benar2 menikmati sensasinya dengan bergerak memutar panggul atau gerakan lainnya yang membuat saya nyaman dan membantu turunnya bayi. Saya menikmati waktu di antara kontraksi dengan berzikir, mengobrol dan bercengkrama dengan keluarga, berfoto-foto, berjalan-jalan di dalam rumah, makan, atau dipijat dan berbaring. Aku tertidur sekitar pukul 12 malam. Sementara itu, kolam sudah mulai diisi air hangat untuk berjaga-jaga.

Saya bangun sekitar pukul 4 pagi dalam keadaan gerah (padahal suhu cukup dingin) dan sangat ingin mandi. Saya pun mandi dan saya rasakan kontraksi semakin teratur setiap 30 atau 20 menit. Kolam mulai diisi ulang air hangat baru sekitar pukul 5. Sekitar pukul 6.30 saya mencoba berendam dalam kolam agar lebih nyaman dan ringan dalam menggerakkan badan terutama ketika kontraksi datang, tapi kadang masih keluar-masuk (kolam) dan menungging di tempat tidur. Untuk menjaga stamina, pagi itu saya minum segelas besar jus buah segar, makan telur rebus dan madu. Ketika intensitasnya semakin lama semakin kuat, setiap merasakan kontraksi, saya hanya meremas tangan suami kuat-kuat sambil berdoa dan berzikir dalam hati. Suami saya selalu mendampingi dan membantu saya merasa nyaman, mengusap atau memijat pelan punggung saya, sambil mengobrol dan bercanda agar saya rileks, sambil mendengarkan musik yang menenangkan.

Bidan datang pukul 8.30, dan stand-by menunggu di luar kamar sebagai bantuan back-up dan mengurus prosedur setelah bayi keluar.  Sekitar pukul 9, suami masuk kolam menyertai saya, dan kami berdua saja di dalam kamar. Di dalam air, sambil menikmati kontraksi yang semakin pendek-pendek jaraknya dan dorongan bayi yang semakin kuat, beliau terus mendampingi sehingga saya merasa tenang dan rileks. Dalam keheningan, kami mengobrol santai, berdoa bersama, dan terus mengajak bicara bayi kami. Kami merasakan syukur yang begitu mendalam sekaligus merasa excited karena sesaat lagi kami akan bertemu Shula yang selama ini hanya berinteraksi dengan kami dari dalam rahim. Rasanya seperti mimpi. Suami saya mengupayakan suasana yang rileks dan intim agar hormon oksitosin yang katanya memudahkan proses persalinan yang nyaman, terus dihasilkan tubuh saya. Beliau memeluk, memijat punggung, mengelus-elus perut, mendampingi saya menghadapi kontraksi dengan amat sabar. Saya sendiri hanya terus mengatur nafas yang baik sambil terus berzikir.

Tiba-tiba saya merasakan ketuban saya pecah dan airnya langsung berbaur indah dengan air kolam. Kami semakin excited. Saya merasakan bayi kami mendorong-dorong ingin keluar dengan semakin kuat. Saya terus mengingatkan diri untuk tidak mengejan, seperti yang pernah saya baca di cerita Mbak Dee, karena bayi pasti akan keluar dengan sendirinya. Lucunya, kira-kira lima atau sepuluh menit sebelum bayi kami lahir, ibu saya tiba-tiba masuk ke dalam kamar sambil menangis. Mungkin beliau panik dan merasa tidak tega mendengar suara saya dari luar kamar. Padahal saya bersuara bukan karena kesakitan, melainkan lebih kepada luapan ekspresi sensasi yang saya rasakan. Lucunya lagi, Mama sempat bertanya pada saya, “Nak, kamu masih kuat, kan?” Saya pun menjawab dengan penuh keyakinan dan menenangkan hatinya. Sempat sekali waktu puncak kepala bayi menyembul keluar dari jalan lahir, ia masuk lagi ke dalam hingga terlihat hanya sedikit rambutnya. Sangat menakjubkan sekaligus exciting. Masuknya Mama ke dalam kamar, sedikit banyak mempengaruhi saya untuk sedikit lebih mengerahkan tenaga.

Di detik-detik keluarnya bayi, saya tiba-tiba secara instingtif ingin membalikkan badan bersandar menghadap dinding kolam. Mama pun memeluk saya dari luar kolam sambil tak kuasa menahan tangis harunya. Shula pun lahir dengan tenang pada pukul 9.48, di hari itu, Selasa 16 November 2010.

Shula yang meluncur keluar, langsung ditangkap oleh ayahnya. Begitu keluar dan masih di dalam air, ia sangat tenang dan tidak langsung menangis. Ia baru menangis beberapa detik kemudian begitu dikeluarkan dari dalam air, dan suami saya menyerahkannya ke tangan saya untuk langsung saya dekap. Kami begitu senang bertemu dengan Shula pertama kalinya, sampai menangis. Bahkan mata suami saya pun berkaca-kaca karena haru. Indahnya peristiwa kelahiran ini bagi kami, sulit dilukiskan kata-kata. Kami begitu bahagia dan penuh syukur yang meluap, memuji kebesaran Tuhan dengan ketakjuban yang luar biasa. Subhanallah. Maha Besar Tuhan yang telah memungkinkan semua keajaiban ini terjadi.

Dee: Mendengar cerita kamu barusan, detik ini saya berlinang air mata. Proses persalinan memang peristiwa yang sangat, sangat powerful. Lalu, bagaimana proses pasca persalinannya sendiri, pemotongan tali pusat, adakah sobekan/jahitan, dan sebagainya?

Ridha: Setelah IMD berhasil dilakukan, plasenta masih belum keluar. Setelah menunggu selama kurang lebih 2 dua jam, akhirnya saya dan suami memutuskan untuk memotong tali pusat dan mengeluarkan plasenta dari dalam rahim. Memang saya sempat ingin mempraktikkan Lotus Birth, tapi selain karena merasa kurang praktis, saya pernah juga membaca dari sumber lain bahwa yang terpenting adalah tali pusat tidak langsung dipotong begitu bayi lahir (ditunda beberapa jam). Saya juga merasa agak lelah. Akhirnya kami memutuskan untuk memotongnya sebelum plasenta keluar sendiri. Begitu tali pusat dipotong, tidak lama kemudian plasenta pun keluar dengan mudah.

Syukurlah, setelah diperiksa ternyata cuma ada sedikit sekali sobekan sehingga tidak membutuhkan penjahitan, karena akan pulih rapat kembali dengan sendirinya. Setelah selesai semua proses bersalin, saya langsung mandi membersihkan sekujur tubuh. Pada saat itu tidak terasa sakit sama sekali. Esok harinya baru terasa agak nyeri, tapi setelah beberapa hari, alhamdulillah, semua pulih.

Dee: Apakah Inisiasi Menyusui Dini berjalan dengan lancar? Bisa ceritakan prosesnya?

Alhamdulillah, IMD berjalan lancar, Shula berhasil menyusu setelah kurang lebih 30 menit diletakkan di atas dada saya setelah lahir. Pada saat itu saya masih berbaring santai dalam air hangat dan tali pusat masih tersambung dan plasenta masih berada di dalam rahim. Kami semua—saya, suami, Mama, adik perempuan saya, serta bidan—mengamati dengan antusias gerak-gerik Shula yang pelan-pelan mencari puting susu ibunya untuk pertama kali. Amazing, sangat menakjubkan dan sekaligus membahagiakan.

Dee: Sekarang, setelah melewati itu semua, apa yang kamu rasakan sebagai manfaat paling besar, atau kesan terdalam apa yang kamu rasakan dari mengalami Gentle Birth?

Ridha: Kami merasa sangat beruntung dan tak habis-habisnya bersyukur bahwa Tuhan telah memberi kepercayaan, bimbingan dan pertolongan-Nya kami dapat mengalami Gentle Birth dengan selamat. Secara umum, segala kriteria dari persalinan dambaan kami—tenang, intim, sakral, nyaman dan alamiah—berjalan sesuai fitrahnya.

Bagi saya sebagai ibu, persalinan ini membuat saya benar-benar menghayati dan menikmati proses melahirkan seorang insan baru ke dalam kehidupan dunia sebagai peristiwa yang teramat indah untuk dikenang, bahkan fenomenal. Saya bahkan sangat menantikan untuk mengalaminya lagi bagi kelahiran anak kami selanjutnya. Setiap detiknya begitu membekas pada jiwa kami semua. Peristiwa ini juga semakin meneguhkan cinta dan persatuan kami sebagai suami-istri dan juga kini sebagai sepasang orang tua. Kami pun semakin yakin bahwa jika kita percaya dan berserah pada proses alam dan kekuasaan Tuhan, maka Ia pasti akan menolong serta memberikan yang terbaik.

Selain itu, kami semua merasakan ikatan batin yang sangat kuat dengan Shula. Bagi kami, Shula juga merupakan bayi yang sangat komunikatif dan memiliki kesadaran dan kedirian yang begitu utuh. Yang terutama, kami telah berusaha mempersembahkan proses persalinan yang terbaik bagi anak kami Shula, sebagai amanah titipan Tuhan, yakni suatu peristiwa yang dampaknya akan berpengaruh positif di sepanjang hidupnya, baik bagi kecerdasannya, kesehatan jiwa raganya, karakter, dan kepribadiannya kelak.