Dewi Lestari (Dee), seorang penulis novel bestseller, penyanyi, dan penulis lagu, berbagi kisah luar biasa tentang persalinan anak keduanya bersama Reza Gunawan, suaminya yang berprofesi sebagai praktisi penyembuhan holistik.

Dari pernikahannya yang pertama, Dee melahirkan putera sulungnya, Keenan Avalokita Kirana (6 thn), melalui operasi Caesar di sebuah rumah sakit di Bandung. Saat hamil puteri keduanya, Atisha Prajna Tiara (9 bulan), Dee dan Reza mendambakan sebuah persalinan alami dengan metode Gentle Birth. Berikut percakapan Liz Sinclair dengan pasangan Dee dan Reza tentang persalinan Atisha yang akhirnya terjadi di rumah mereka sendiri, di dalam air, tanpa didampingi dokter atau bidan, dan bagaimana pengalaman Gentle Birth telah mengubah kehidupan dan hubungan mereka.

LIZ: Bagaimana awalnya kalian bisa mengenal persalinan alami atau metode Gentle Birth ini?

REZA: Saya sudah cukup lama berkecimpung di bidang penyembuhan alamiah hingga akhirnya mendirikan pusat penyembuhan holistik di Jakarta tahun 2003. Sebagian besar pekerjaan saya terkait dengan penyembuhan trauma; bagaimana trauma yang belum tersembuhkan bisa mempengaruhi hidup kita bertahun-tahun ke depan; dan bagaimana setiap pengalaman hidup membentuk masa depan seseorang. Saya juga banyak mendampingi klien yang sedang hamil. Awalnya saya nggak tahu banyak tentang Gentle Birth, saya cuma tahu bagaimana mengajarkan teknik relaksasi dan self healing bagi ibu hamil, hingga akhirnya beberapa tahun lalu saya menonton film dokumenter tentang Gentle Birth yang berjudul “Birth As We Know It”.

Saat itu, kebetulan saya sudah kenal dengan Mira, seorang bidan persalinan alami di Bali, yang sudah puluhan tahun berpengalaman melakukan water birth di berbagai negara di dunia. Saya juga sudah mengenal Yayasan Bumi Sehat, sebuah fasilitas Gentle Birth di Ubud, Bali.

Januari 2009, kami melakukan cek USG untuk memastikan kehamilan Dewi. Selang dua hari, kami berangkat ke Ubud untuk retreat meditasi. Berhubung sudah di Ubud, kami pun mengunjungi Bumi Sehat. Di sana, Dewi memeriksakan kehamilan sambil melihat-lihat fasilitas persalinan. Setelah kembali ke Jakarta, kami jadi bersemangat mempelajari lebih jauh tentang water birth dan Gentle Birth. Kami juga menonton film dokumenter yang dibuat Ricki Lake berjudul “The Business of Being Born”. Film itu banyak membuka mata kami tentang berbagai aspek proses persalinan modern yang selama ini luput dari pengamatan banyak orang. Kami semakin ingin menjalani proses Gentle Birth, tapi kesulitan mencari fasilitas pendukung di Jakarta. Meskipun setidaknya ada dua tempat di Jakarta yang bisa melakukan water birth, kami merasa fasilitas-fasilitas itu belum bisa memberikan suasana Gentle Birth yang ingin kami alami. Kami menginginkan suasana yang lebih sakral, personal, bahkan kalau bisa di rumah sendiri. Sempat juga kami mempertimbangkan untuk sewa rumah di Ubud, supaya Mira atau bidan Bumi Sehat bisa membantu persalinannya, tetapi setelah kami survei lebih lanjut, kok, ternyata nggak praktis. Kami jadi harus meninggalkan Jakarta terlalu lama. Akhirnya kami terpaksa mencari opsi lain. Di Bumi Sehat kami sempat berkenalan dengan bidan bernama Ibu Budi yang bersedia terbang ke Jakarta untuk membantu persalinan. Kami sempat lega karena minimal sudah punya “pegangan”.

LIZ: Apakah kalian memang menyiapkan diri untuk melakukan persalinan tanpa pendampingan bidan atau dokter?

REZA: Sekitar bulan ke-6, tiba-tiba Ibu Budi kirim SMS, beliau membatalkan kesanggupannya karena ada acara keluarga yang bertepatan dengan perkiraan waktu Dewi melahirkan. Perencanaan kami pun amblas kembali ke titik nol. Anehnya, walaupun saya nggak punya pengalaman sama sekali, saya merasa cukup tenang dan nyaman dengan kemungkinan harus membantu persalinan Dewi sendirian.

Sempat saya membaca buku tipis tentang persalinan darurat, yang biasanya digunakan oleh polisi dan pemadam kebakaran.  Mira juga senantiasa mengingatkan, “Kalau ternyata kamu harus mendampingi Dewi sendiri, ingat bahwa proses ini milik alam.  Yang paling penting, kamu harus hadir penuh perhatian dan menunggu proses itu terjadi dengan sendirinya.”

Setelah saya dan Dewi berpasrah, tiba-tiba pada akhir kehamilan, Mira sendiri menyatakan kesediaannya untuk terbang ke Jakarta pada hari H persalinan. Padahal Mira sudah lama pensiun menjadi bidan. Kesediaan Mira membuat kami berdua jadi lebih tenang.

Sembilan hari sebelum persalinan, kami berdua mengungsi ke rumah orang tua saya. Kami memang merencanakan melahirkan di sana karena fasilitas air panasnya bagus. Sembilan hari pula saya berhenti praktek di klinik. Dan setiap hari, kami selalu bertanya-tanya, “Malam ini bukan, ya?” Lama-lama kegelisahan itu mulai mengganggu. Kami menelepon Mira, dan beliau menasihati, “Ada pepatah dalam Bahasa Inggris: a watched pot never boils.” Artinya, sesuatu kalau terlalu ditunggu-tunggu malah rasanya nggak kejadian-kejadian. Mira menyarankan kami pulang lagi ke rumah sendiri, saya dan Dewi juga disuruh kembali berkegiatan. Eh, besok paginya, tahu-tahu bayi kami lahir.

LIZ: Dee, bisa ceritakan bagaimana persalinan pertama Anda dan bagaimana perbedaannya dengan proses persalinan anak kedua?

DEE: Dulu pemahaman saya tentang kehamilan dan persalinan sangatlah simpel. Sedikit sekali yang saya tahu. Saya cuma berpatokan pada Mama saya almarhum yang melahirkan lima orang anak secara normal, padahal badannya lebih kecil dari saya. Jadi saya selalu merasa pasti bisa seperti Mama. Tahunya, kakak perempuan saya, yang paling pertama kali punya anak di antara kami bersaudara, ternyata harus operasi Caesar. Agaknya itu membuat saya mulai ragu, kok, ternyata nggak semudah yang saya kira. Waktu saya hamil Keenan, saya masih termotivasi untuk melahirkan normal, tapi pengetahuan saya saat itu beda banget kalau dibandingkan sekarang. Hari itu, air ketuban saya pecah subuh-subuh, dan saya langsung pergi ke rumah sakit. Begitu sampai di sana, otomatis kami harus mengikuti prosedur rumah sakit. Pukul 9 pagi, perawat menawarkan induksi. Waktu itu, saya nggak kebayang bagaimana efeknya, jadi saya setujui. Saya pikir itulah yang terbaik dan teraman bagi saya dan bayi.  Kontraksi saya malah semakin kuat dan intens. Sakit sekali. Tapi ternyata bukaan saya belum cukup juga. Selama proses kontraksi, suasana di ruang itu sangat nggak nyaman. Orang-orang datang keluar masuk. Memang banyak teman dan keluarga saya yang hadir, dan bukannya saya nggak bersyukur dengan kehadiran mereka, tapi saya benar-benar nggak mendapatkan privasi. Dan itu ternyata membuat proses persalinan terasa makin sulit.

Pukul 12.30, dokter menawarkan operasi Caesar karena tidak ada bukaan lebih lanjut. Jujur, saat itu saya sudah nggak merasakan lagi koneksi dengan tubuh saya sendiri. Yang saya ingat cuma rasa sakit luar biasa yang penginnya cepat-cepat lewat. Karena sudah nggak kuat menahan nyeri, saya setuju untuk operasi Caesar. Apa pun yang penting sakit itu lewat, pikir saya waktu itu. Bahkan saya minta dibius total. Bangun-bangun, saya sudah menggigil kedinginan di ruang operasi. Baru di kamar, dalam keadaan setengah sadar, saya sempat melihat Keenan sekilas. Lalu saya tertidur lagi, dan Keenan pun dibawa ke ruang bayi.

Rasanya sangat janggal. Ketika saya melihat Keenan, saya tidak merasakan koneksi batin yang kuat dengannya. Saat itu saya nggak tahu bahwa proses kelahiran yang sarat intervensi itu sudah mengacaukan hormon saya yang berfungsi untuk menciptakan bonding dengan bayi. Saya pikir, semua itu wajar.

Pernah satu malam di rumah sakit, payudara saya bengkak karena kepenuhan ASI, dan saya minta tolong perawat untuk membawa Keenan supaya bisa saya susui. Bukannya Keenan yang dibawa, perawat itu malah memberikan botol kosong dan saya disuruh untuk memompa ASI yang katanya nantinya akan diberikan ke Keenan. Saya cuma bisa bengong. Saya belum pernah menyusui sebelumnya, boro-boro tahu cara memompa. Mati-matian saya berusaha memerah dengan tangan dan akhirnya cuma dapat satu sendok teh. Ketika kami pulang dari rumah sakit, petugas pun memberikan paket susu formula dan bilang “Ini merk susu yang selama ini kami berikan untuk bayi Anda.”  Dan akhirnya saya lanjut memberikan susu formula itu pada Keenan, meski terus diselingi ASI. Saya menyusui Keenan sampai dua setengah tahun, tapi kami tidak pernah mengalami ASI eksklusif karena Keenan sudah diberi formula dari hari pertama dia lahir, tanpa persetujuan saya. Namun, sekali lagi, saya pikir itu wajar, dan semua ibu mengalaminya.

Karena lahir di rumah sakit, dalam 24 jam Keenan juga langsung divaksinasi. Selama masa kecilnya, Keenan sering mengalami reaksi alergi dan kesulitan bernapas. Hingga sekarang gejala itu masih ada, dan pelan-pelan kami mengobatinya memakai terapi homeopati. Berbekal semua pengalaman itu, ketika hamil anak kedua, saya bilang  sama Reza, “Kali ini, saya mau melakukan persalinan yang benar-benar berbeda.”

Waktu persalinan Atisha, sejujurnya saya agak kaget karena ternyata rasa nyerinya tidak sehebat yang saya alami dulu. Barangkali karena saya tidak diinduksi, jadi meski ada rasa nyeri, tetap masih dalam batas yang bisa saya tahan. Dan karena saya melahirkan di rumah, saya bisa berekspresi penuh. Nggak ada ketegangan karena infus, orang hilir mudik, dan intervensi ini-itu. Saya bisa jongkok, nungging, teriak, membenamkan kepala di bantal, pokoknya gaya apa pun yang saya mau. Saya juga sudah sepakat sama Reza, kalau saat persalinan kami nggak mau ada orang lain di kamar. Hanya saya berdua dengan Reza. Saya ingin bebas menjadi diri sendiri, mengalami proses melahirkan dengan sepenuh-penuhnya tanpa perlu menahan diri.

LIZ: Saat melahirkan Keenan di rumah sakit, apakah kamu merasa ada tekanan untuk diam dan nggak menjadi diri sendiri?

DEE: Waktu itu saya ditempatkan di ranjang, jadi saya harus menahan semua rasa nyeri dalam posisi statis. Apalagi sesudah diinduksi di lengan saya ada jarum infus, jadi saya makin nggak bisa bergerak. Saya juga merasa nggak bebas berekspresi karena banyak orang di sekeliling saya. Mereka nggak secara langsung menahan atau menyuruh saya diam, tapi akhirnya terkondisikan untuk demikian.

LIZ: Dan saat melahirkan Atisha, kamu merasa bisa berekspresi sepenuhnya?

DEE: Ya, saya bahkan bisa berfungsi normal seperti biasa, malah sempat buang air kecil di tengah-tengah kontraksi. Saya bisa jalan sendiri ke toilet.

LIZ: Apa yang kira-kira memicu perubahan persepsi Anda tentang persalinan?

DEE: Jauh sebelum hamil, kami memutar video dokumenter “Birth As We Know It” untuk pertama kalinya, dan saya cuma sanggup menonton lima menit. Di video itu, baru kali itulah saya menyaksikan seorang perempuan melahirkan dengan alami. Saya nggak sanggup melanjutkan. Saya cuma menangis tersedu-sedu. Saat itu, saya baru menyadari trauma yang selama ini saya simpan.

REZA: Adegannya itu tentang perempuan yang melahirkan di tengah danau. Dia jongkok dan bayinya keluar begitu saja di dalam air.

DEE: Dipandu oleh Reza, saat itu juga kami melakukan proses penyembuhan trauma. Setelah itu, saya baru berani melanjutkan menonton. Begitu banyak perasaan yang bermunculan. Saya nggak sadar bahwa ternyata saya menyimpan kekecewaan pada diri sendiri karena tidak bisa memberikan persalinan yang saya inginkan, dan yang paling utama adalah: saya merasa bersalah pada Keenan. Ia lahir tanpa merasakan pelukan ibunya terlebih dulu, tanpa mengalami proses menyusui yang seharusnya menjadi insting setiap bayi. Saya ingat, pada malam yang sama, Keenan sedang batuk cukup parah. Keesokan harinya, setelah trauma saya sudah dibersihkan, seketika batuknya sembuh begitu saja tanpa diobati. Saya nggak menyangka betapa eratnya koneksi energi antara saya dan Keenan. Antara seorang ibu dan anak. Pengalaman itu seperti “membangunkan” saya. Pemahaman dan pendekatan saya tentang kehamilan dan persalinan berubah total.

LIZ: Bagaimana dengan persiapan selama kehamilan, apakah ada yang khusus atau yang berbeda dibandingkan dengan apa yang Dee jalankan dulu saat hamil pertama kali?

REZA: Proses kehamilan ini seluruhnya berjalan alami.  Kami berdua tekun berlatih meditasi dan self healing. Dewi juga rajin berlatih Tai Chi untuk ibu hamil.  Kalau diperlukan, kadang saya membuatkan racikan air bunga (Bach Flower Remedies) untuk Dewi, yang berguna untuk penyembuhan dan penyeimbangan mental. Kalau ada masalah selama kehamilan, kami hanya menelepon para bidan di Bali untuk konsultasi.  Biasanya, kami dapat saran sederhana dari Mira seperti “Istirahat saja yang cukup, ya. Nggak usah khawatir, percaya sama alam.” Kami hanya ke dokter sebanyak 2 kali, pertama di awal kehamilan dan sekali lagi di minggu ke-37 untuk USG.

DEE: Pada kehamilan kedua, saya nggak minum obat apa pun, hanya multivitamin organik khusus untuk kehamilan, Bach Flower Remedies, tai chi, meditasi, Jin Shin Jyutsu (terapi dari Jepang yang menggunakan sentuhan ringan, semacam akupunktur tanpa jarum – RED), dan latihan self healing. Meski sempat mengalami mual-mual dan gatal hamil (prurigo), saya bertahan dengan penyembuhan alamiah. Dan semua itu memang akhirnya lewat dengan sendirinya. Pernah juga dua kali saya pendarahan ringan, saya berusaha nggak panik dan hanya istirahat total. Kalau di kehamilan pertama, hal-hal seperti itu sudah langsung membuat saya daftar opname ke rumah sakit

LIZ: Apakah Anda pernah merasa ragu untuk menjalankan persalinan Gentle Birth?

DEE: Tentu saja saya pernah dihinggapi keraguan. Bisa nggak ya saya mengalami persalinan alami? Kedua kakak perempuan saya melahirkan dengan operasi Caesar. Salah satu bahkan bilang, “Sekali Caesar, kamu harus Caesar lagi supaya aman. Udah, terima nasib aja.” Tapi, sekarang saya sudah banyak riset dan membaca. Meski anggapan semacam itu populer, tapi saya tahu itu nggak sepenuhnya benar. Sebaliknya, dengan jarak persalinan yang cukup, kehamilan yang nggak bermasalah, saya malah merasa lebih aman untuk melahirkan secara alami ketimbang harus Caesar lagi.

LIZ: Lalu bagaimana akhirnya proses persalinan Atisha, bisa diceritakan?

REZA: Dewi mulai kontraksi pukul 4.30 pagi. Tapi karena selama dua minggu terakhir dia sering mengalami Braxton Hicks (kontraksi palsu – RED), kami memutuskan untuk menunggu sejam sebelum akhirnya menelepon Mira. Pukul 6.30 WITA, Mira mulai bersiap berangkat dari rumahnya. Setiap puncak kontraksi, saya berikan akupresur untuk meringankan nyerinya Dewi. Di sekian menit antar kontraksi, saya melakukan segala persiapan, dari mulai mengurus tiket Mira ke travel agent, memompa kolam untuk melahirkan, mengisi air, dan seterusnya. Pokoknya saya mondar-mandir terus. Sayang, Mira nggak berhasil kebagian pesawat yang paling pagi, dan baru dapat pesawat yang pukul 11.30.

DEE: Ketika dikasih tahu Mira nggak berhasil berangkat dengan pesawat pagi, saya pun tahu kami akan menjalankan persalinan itu sendiri. Sebagai rencana darurat, kami memang terdaftar di rumah sakit yang cuma lima menit dari rumah. Tapi  kontraksi saya sudah sangat kuat dan jaraknya sudah pendek-pendek. Saya nggak punya waktu untuk berpikir ini-itu. Saya bahkan nggak punya waktu untuk merasa takut. Satu yang saya ingat, Mira selalu mengajarkan untuk jangan mengejan, biarkan bayi keluar dengan sendirinya. Tepat pukul 9, nyeri kontraksi mendadak hilang, bergeser menjadi sensasi lain. Seolah di dalam tubuh saya ada yang ingin mendorong keluar. Saya ingat, ketika saya lagi jalan di pinggir kolam, tiba-tiba saja lutut saya menekuk seperti mau jongkok. Saya langsung  bilang ke Reza, “OK, kita harus masuk ke kolam. Sekarang.” Benar-benar instingtif.

Ketika berada dalam air, sensasi mendorong itu nggak terasa menyakitkan. Rasanya lebih seperti tubuh saya merekah terbuka, seperti bunga mau mekar. Spontan dan nggak bisa ditahan, saya pun membuat bebunyian, seperti teriakan, tapi bunyinya beda. Suara saya mirip lenguhan sapi, pokoknya kayak binatang. Sangat… primal.

Rasanya saya kebelah jadi dua: Dewi yang berpikir dan Dewi yang melakukan persalinan. Sisi saya yang berpikir sibuk komentar: “Ini kok nggak kayak suara kamu, sih,”; “Ini kok rasanya gini, sih,” dsb, dsb. Sementara sisi yang satunya lagi begitu tenang, pasrah, mengalir bersama proses persalinan. Ketika Atisha keluar, saya kaget sendiri. Lho, kok udah selesai lagi?

REZA: 30 menit dari kami masuk kolam, Atisha meluncur keluar, mendarat di tangan saya, dan saya langsung berikan ke Dewi.

DEE: Dari tangan Reza, saya mengambil Atisha, memeluknya di dada. Setengah jam kemudian Atisha sudah menyusui. Ajaib sekali rasanya seluruh perjalanan itu: dari pengalaman persalinan di meja operasi hingga akhirnya mengalami persalinan spontan, natural, di rumah, di dalam air. Atisha bahkan ditangkap oleh tangan ayahnya sendiri. Mimpi besar kami jadi kenyataan.

REZA: Persalinan Atisha terjadi begitu indah sekaligus alamiah. Kami nggak merasa kehidupan normal kami terinterupsi karena harus melakukan perjalanan ke rumah sakit, harus menginap di tempat asing, dst. Proses hadirnya Atisha terasa seperti bagian dari kehidupan kami sehari-hari.

DEE: Oh ya, di balik pintu kamar, sebetulnya ada adiknya Reza, Sharena, yang berjaga-jaga kalau kami butuh air panas, handuk, dsb. Sementara orang tua Reza dan Keenan menunggu di ruangan lain. Ketika kami sudah masuk kolam, Reza sudah nggak kepikir untuk merekam video. Nggak mungkin kan dia menangkap bayi sambil pegang handycam. Di tengah kontraksi, tiba-tiba saja saya terpikir untuk mengajak Sharena masuk dan mengambil video. Jadi, pada saat Atisha lahir, akhirnya ada tiga orang di kamar. Dan kami bersyukur sekali karena kami jadi punya dokumentasi.

LIZ: Bagaimana suasana di rumah saat itu

REZA: Februari 2010 lalu, saya mengikuti workshop di Singapura bersama Elena Tonetti-Vladimirova, pembuat film dokumenter “Birth as We Know It”. Elena menjelaskan konsep “medan energi persalinan”. Ketika seorang perempuan berproses untuk melahirkan, ada semacam medan energi yang mengelilinginya, dan semua orang yang berada di dalam medan energi tersebut akan terpengaruh, seolah masuk ke dalam kesadaran yang berbeda. Saya rasa medan energi ini lebih mungkin terasa ketika persalinan terjadi di rumah dibanding di rumah sakit. Saya sendiri merasakan bagaimana seisi rumah orang tua saya waktu itu seperti masuk ke frekuensi kesadaran yang lain. Adik saya nggak biasanya setenang itu. Saya sendiri merasa seperti punya kesadaran dan energi seorang bidan. Saya menjalani proses persalinan dengan begitu tenang dan sabar. Setelah selesai, barulah meledak kebahagiaan yang meluap-luap, sampai saya nggak berhenti-berhenti keluar air mata. Dewi juga mengalami hal yang sama. Bisa merasakan energi sekuat itu, dan bagaimana satu rumah bisa ikut bertransformasi, benar-benar pengalaman yang luar biasa.

LIZ: Seperti tercipta ruang sakral…

REZA: Ya, dan ruang sakral itu mampu menggeser frekuensi batin dan perilaku kita sehari-hari. Benar-benar kuat pengaruhnya. Menakjubkan.

LIZ: Di praktek persalinan zaman Mesir kuno, perempuan-perempuan biasanya memakai kursi jongkok berkaki rendah dengan lubang di tengahnya. Saat itu, posisi jongkok lazim dilakukan untuk persalinan. 

DEE: Saya pernah lihat instruktur senam hamil di rumah sakit menjelaskan posisi-posisi perempuan melahirkan dari zaman ke zaman, salah satunya ada ilustrasi perempuan yang melahirkan sambil jongkok. Waktu itu saya nyeletuk dalam hati, “Aduh, primitif banget. Gimana bisa perempuan melahirkan kayak begitu?” Yang saya tahu, semua perempuan modern melahirkan dalam posisi berbaring dengan kaki diangkat ke atas. Tapi ternyata, waktu proses persalinan Atisha, saya mengalami sendiri bagaimana lutut saya spontan menekuk. Dorongan itu rasanya begitu natural. Saya jadi berpikir, barangkali memang sudah sedemikian jauhnya praktek persalinan modern dengan proses yang alami.

REZA: Dari riset, kami sempat tahu juga bahwa posisi bersalin sambil berbaring itu baru diterapkan ketika persalinan mulai bergeser dari rumah tinggal ke rumah sakit di mana para bidan tidak lagi diikutsertakan. Para dokter obstetri saat itu tidak merasa nyaman untuk jongkok dan menangkap bayi di bawah, jadi para perempuan akhirnya diminta untuk berbaring dan mengangkat kaki. Banyak sekali hal mengejutkan yang kami dapati selama riset tentang persalinan, terutama mengenai betapa jauhnya persalinan alamiah dengan persalinan modern yang kita kenal sekarang.

Seorang teman saya melakukan penelitian di Papua. Dia menemukan sebagian suku di sana ternyata melakukan water birth.  Ibu yang sudah siap melahirkan akan pergi ke danau dengan perahu kecil, ditemani anak lelakinya. Ketika si ibu merasa kontraksinya sudah kuat dan bukaannya cukup, dia akan turun ke air sambil berpegangan pada perahu, lalu anak lelakinya menyelam untuk menangkap adiknya yang keluar di dalam air. Luar biasa, kan?

LIZ:  Sangat luar biasa. Manfaat atau berkah apa saja yang sudah kalian rasakan dari pengalaman persalinan alami ini?

REZA: Dewi nggak mengalami sobekan. Jadi nggak ada yang perlu dijahit. Untuk pemulihan, Dewi hanya minum obat homeopati.

DEE: Atisha juga tidak divaksinasi, dan belum pernah diberi obat kimia apapun sejak lahir. Sejauh yang saya amati, kesehatan dan daya tahan tubuhnya jauh berbeda dengan Keenan.

REZA: Kami mempraktekkan co-sleeping dengan Atisha, yakni tidur di ranjang yang sama. Atisha pun tidur dengan baik sejak hari pertama. Kami sama sekali nggak kurang tidur karena tak harus bangun setiap sekian jam sebagaimana yang umumnya terjadi.

DEE: Sejak lahir, Atisha belum pernah berpisah dari saya. Saya memutuskan untuk merawat dia sepenuhnya dan menggeser pekerjaan saya jadi prioritas ke-5, bahkan ke-10 kalau perlu.  Saya nggak merasa kehilangan apa pun. Mengasuh dia sudah membuat saya merasa tercukupi setiap harinya. Dulu, saya nggak seperti itu. Dulu, saya kehilangan sekali sisi Dewi yang bekerja, yang berkarier, dan pengin cepat-cepat kembali aktif seperti sebelum punya anak. Sekarang, setelah Atisha lahir, saya malah merasa lebih utuh. Rasanya peran ibu dan istri benar-benar menyatu dengan diri saya secara keseluruhan.

LIZ: Bagaimana Gentle Birth mempengaruhi hubungan kalian berdua?

REZA: Ketika saya mengawali hubungan dengan Dewi, dia sudah punya seorang anak. Saya mengamati Dewi dari berbagai sisi: sebagai dirinya sendiri, sebagai seorang pasangan, dan sebagai ibu bagi Keenan. Saya merasa kelahiran Atisha telah membuat semua sisi Dewi tadi semakin terintegrasi. Saya menyaksikan Dewi berkembang penuh dan utuh ke dalam peran seorang ibu. Berbeda sekali dibandingkan sebelumnya. Bukan berarti selama ini cintanya pada Keenan ada yang kurang, tapi saya merasa ada sosok ibu yang tidak berkesempatan mekar secara penuh saat persalinan yang pertama.

Sekarang, Dewi punya koneksi yang lebih baik dengan tubuhnya sendiri, lebih grounded. Ketika dia berinteraksi dengan saya, saya merasa dia lebih jujur tentang dirinya, kebutuhannya, dan intuisinya.

Kalau dibandingkan antara sebelum hamil dan masa sekarang, saya nggak merasa kekurangan apa pun dalam hubungan kami, baik keintiman fisik maupun emosional.

DEE: Waktu kami baru menikah, saya sempat memperingatkan Reza, “Kalau nanti kita punya anak, semua bakal berubah. Siap-siap aja. Saya udah pernah ngalamin.” Saya juga sudah siap-siap akan “kehilangan” diri saya selama minimal dua tahun, individualitas saya, karier saya, semua bakal berubah lagi. Tapi ternyata enggak. Justru kehadiran anak kedua ini menambah kualitas hubungan kami, bukannya mengurangi. Sejak hari pertama, saya menyaksikan keterlibatan Reza yang begitu penuh dengan Atisha. Sekarang Atisha sudah hampir 10 bulan, dan sampai hari ini Reza masih berkaca-kaca setiap kali Atisha bikin sesuatu yang lucu atau ngegemesin. Kadang-kadang, dia malah lebih keibuan dari saya, ha-ha-ha…

REZA: Cuma melihat Dewi bersama Atisha saja, saya sering tiba-tiba menangis terharu. Waktu saya mengedit video kelahiran Atisha selama tiga malam, tiga malam juga saya berlinangan air mata. Dalam pengamatan saya, Atisha itu bayi yang penuh kesadaran. Ada yang istimewa pada Atisha dan bagaimana ia menjalin konektivitas dengan Dewi, saya, Keenan. Kehadirannya membuat keluarga kami menjadi semakin erat dan hangat. Kebahagiaan seperti terus-terusan mengalir setiap hari. Saya merasa sangat penuh

DEE: Saya jadi bertanya-tanya, apakah mungkin salah satu faktor mengapa banyak pasangan mengalami rasa keterpisahan pasca persalinan adalah karena pengalaman persalinan yang tidak utuh? Begitu juga dengan baby blues, yang katanya normal terjadi. Memang betul saya merasa adanya perubahan hormon sekian hari setelah melahirkan, dan memang terasa pengaruhnya pada mood, fisik, dan emosi. Tapi rasanya nggak ada yang ekstrem. Saya hanya menyadari dan memperhatikan bahwa ada perubahan saja. Bukan sesuatu yang jadi membebani.

REZA: Fenomena lain yang biasanya terjadi setelah anak lahir adalah munculnya jarak antara suami dan istri. Saya sering mengamati hal itu terjadi pada klien dan juga teman-teman sendiri. Biasanya suami merasa tersisih karena perhatian sang istri tercurah penuh pada anaknya. Saya nggak mengalami itu. Saya sama sekali nggak keberatan kalau Dewi memberikan seluruh perhatiannya untuk mengasuh anak.

Malah, saya merasa berat kalau meninggalkan rumah. Bahkan sebulan setelah persalinan, saya masih sulit kembali bekerja. Sampai sekarang pun, setiap saya berangkat ke klinik, wajah Atisha selalu terbayang-bayang. Bagi saya, menangkap anak sendiri dan memberikannya langsung pada sang ibu adalah pengalaman yang penuh keajaiban. Kelahiran Atisha ikut melahirkan “ayah” dalam diri saya. Andaikan semua ayah merasakan keajaiban ini, barangkali tidak perlu ada suami yang merasa tersisih oleh kehadiran anaknya.

LIZ: Setelah mengalami semua yang kalian ceritakan, apa yang ingin kalian sampaikan bagi mereka yang mempertimbangkan untuk menjalankan Gentle Birth?

REZA: Selama enam tahun terakhir, saya mengajar kelas self healing. Dan setiap ada ibu hamil yang datang ke klinik, saya selalu rekomendasikan untuk belajar self healing. Saya juga sedang membuat program lanjutan dari kelas self healing yang dikhususkan untuk kehamilan dan persalinan. Saya sih nggak mungkin menjadi bidan, tapi rasanya saya masih bisa memberikan kontribusi bagi berkembangnya Gentle Birth melalui kisah persalinan Atisha serta menyajikan berbagai keterampilan self healing bagi ibu hamil dan menyusui.

Setelah Atisha lahir, saya punya beberapa klien yang mengalami persalinan Gentle Birth dengan cukup baik. Jadi, meski perlahan-lahan, saya perhatikan kesadaran itu mulai muncul. Saya akan selalu mendukung siapa pun yang mempertimbangkan Gentle Birth. Bila waktu hari H ternyata pelaksanaannya berbeda, atau Gentle Birth hanya dipraktekkan secara parsial saja; seperti menunda pemotongan tali pusat, atau menunggu di rumah lebih lama sebelum berangkat ke rumah sakit, atau mengurangi jumlah USG yang tidak perlu selama masa hamil, atau tekun berlatih self healing selama hamil dan bersalin, itupun sudah cukup membantu menciptakan pengalaman melahirkan yang lebih baik.

Secara statistik, komplikasi persalinan yang membutuhkan intervensi medis sebenarnya hanya terjadi di 5% persalinan. Di tempat seperti Bumi Sehat, bahkan hanya sekitar 4-5% klien yang harus ditransfer ke rumah sakit untuk operasi Caesar. Angka itu sangat rendah jika dibandingkan dengan rata-rata fasilitas persalinan modern di Indonesia.

Jujur, saat ini saya merasa situasi persalinan secara umum di Indonesia cukup menyedihkan. D Jakarta juga belum ada cukup informasi maupun layanan yang mendukung Gentle Birth. Kami terus berdoa semoga suatu hari fasilitas Gentle Birth bisa ada di Jakarta. Apalagi selalu ada kecenderungan perilaku di daerah lain untuk mengikuti tren yang di Jakarta.

Gentle Birth adalah perjalanan panjang yang saling berkaitan; dimulai dengan seks yang sadar dan sakral (sacred sexuality), kehamilan alami, persalinan yang ramah jiwa, hingga mengasuh anak dengan penuh kesadaran. Tidaklah cukup untuk sekadar menekankan pada proses lahir di hari H saja. Dalam praktek saya, bahkan jauh sebelum lahirnya Atisha, saya sudah sering melihat betapa kualitas kehamilan dan persalinan bisa mempengaruhi perilaku dan tingkat kekerasan seseorang saat ia beranjak dewasa. Sementara, kita lihat sendiri betapa memprihatinkannya problem perilaku dan tingkat kekerasan yang terjadi di dunia saat ini.

Bagi saya pribadi, Gentle Birth adalah pendekatan yang perlu kita kenal dan coba jalani.

LIZ: Apa kira-kira yang paling penting untuk dipahami oleh calon ibu dan ayah mengenai Gentle Birth ini?

REZA: Yang sering kita tidak disadari adalah, momen persalinan bisa memicu trauma saat kita sendiri dilahirkan dulu. Kalau trauma itu tidak dibersihkan, efeknya bisa macam-macam, dari mulai komplikasi, baby blues, sampai disintegrasi hubungan suami-istri. Sebaliknya, jika sempat dilakukan pembersihan trauma, persalinan bisa menjadi gerbang transformasi dan penyembuhan, bukan hanya bagi ibu, tapi siapa pun yang terlibat, termasuk suami/ayah. Proses kehamilan Atisha telah mendorong kami menghadapi segala hal dalam diri kami yang perlu disembuhkan. Sebagai seorang terapis, saya sudah terbiasa menyaksikan keajaiban. Namun keajaiban saat melahirkan benar-benar nggak ada bandingannya.

DEE: Kalau saya perhatikan, saat ini pendekatan persalinan yang populer cenderung fokus pada bagaimana membuat ibu lebih nyaman secara fisik saat bersalin. Jadi hanya sekadar mengurangi rasa sakit saja. Tapi, pengalaman bayi itu sendiri saat dilahirkan, kebutuhan utamanya, seperti terlupakan. Bahkan diabaikan. Seolah-olah bayi dianggap nggak bisa merasa atau merekam pengalamannya saat lahir. Selama bayi bernapas, selamat, dan kelihatan tubuhnya fungsional, dianggap sudah cukup. Belum ada respek dan pemahaman yang mendalam tentang apa yang sebenarnya bayi butuhkan.

Bagi saya, Gentle Birth adalah hadiah bagi Atisha. Fokusnya bukan pada saya, atau Reza, atau bidan, melainkan pada Atisha. Gentle Birth dengan pendekatannya yang ramah jiwa dan minim trauma akan mempengaruhi kualitas sepanjang hidup bayi. Nggak ada kebisingan, lampu menyilaukan, tempat yang asing dan dingin, ditangani orang-orang yang tidak ia kenal. Tidak ada pemisahan dengan ibu. Atisha langsung disusui sesuai dengan insting naluriahnya. Dan saat persalinan, yang kami dengarkan dan turuti adalah isyarat kesiapan si bayi di perut, bukan semata-mata apa yang saya mau, bukan mengikuti aba-aba dokter atau orang luar. Inilah pemahaman yang ingin saya bagikan bagi para calon ibu. Sadari pentingnya kebutuhan dan kualitas pengalaman bayi saat dilahirkan. Melahirkan adalah persembahan bagi bayi Anda. Bukan cuma perkara mengurangi rasa nyeri atau mencari kenyamanan ekstra.

Ketika saya dibius saat persalinan Keenan, tentu itu lebih “nyaman” karena saya nggak merasakan nyeri, saya tinggal berbaring dan seseorang mengambil bayi keluar dari tubuh saya. Tapi apa yang seharusnya menjadi hak bayi, haknya untuk langsung disusui dan didekap oleh ibunya, haknya untuk mengalami masa transisi yang tenang dan damai, tidak ia dapatkan.

LIZ: Jadi, maksud Anda, nyeri sebenarnya adalah bagian integral dari pengalaman persalinan, dan jika kita cuma fokus pada menghilangkan atau mengurangi rasa nyeri, kita malah mengacaukan spektrum proses persalinan yang utuh?

DEE: Orang masa kini sudah jarang sekali melihat proses persalinan secara langsung, kecuali mereka yang memang kerjanya di klinik bersalin. Jadi apa yang kita tahu tentang persalinan biasanya hanya dari film, teve, dsb. Umumnya persalinan digambarkan sebagai peristiwa yang menyeramkan, penuh kesakitan, histeris, orang-orang panik, dsb. Jarang sekali kita melihat gambaran persalinan sebagai sesuatu yang indah, yang sakral, yang damai. Akhirnya kita selalu punya gambaran bahwa melahirkan itu mengerikan dan berbahaya. Kalau kita bisa mengubah persepsi tersebut, perempuan akan lebih mampu bersentuhan dengan energi femininnya yang sejati, menggunakan kearifan dalam tubuhnya yang sudah tahu bagaimana melahirkan secara alami. Saya dan Reza bahkan pernah menonton dokumenter perempuan yang mengalami persalinan orgasmik. Banyak yang nggak tahu bahwa persalinan sebetulnya bisa menjadi puncak pengalaman seksual seorang perempuan. Tapi, lagi-lagi, kita hanya fokus pada risiko dan rasa sakitnya saja.

LIZ: Bisa dibilang, persiapan mental dan emosional merupakan salah satu langkah penting dalam Gentle Birth?

REZA: Di film “Birth As We Know It,” Elena belajar pada Igor Charkovsky, seorang perintis water birth di Rusia. Charkovsky bukan seorang bidan, profesinya aslinya adalah seorang penyembuh atau healer. Pada awal eksperimennya, Charkovsky melakukan proses penyembuhan energi bagi para ibu hamil. Dia membersihkan segala trauma dalam hidup ibu hamil tersebut, dari mulai trauma cinta, seksual, maupun kelahiran. Ternyata para ibu hamil itu mengalami persalinan yang lebih lancar, minim trauma maupun komplikasi. Dari sanalah Charkovsky mengemukakan prinsip bahwa komplikasi persalinan di hari H berbanding lurus dengan jumlah trauma kehidupan yang belum sembuh. Selama Dewi hamil, kami sering berlatih bersama, menyembuhkan trauma saya maupun Dewi, dan akhirnya kami mengalami proses persalinan yang indah dan relatif lancar. Jadi kami sendiri mengalami langsung apa yang Charkovsky bilang. Menurut saya, proses persiapan Gentle Birth harus meliputi perjalanan pembersihan diri, agar semua bagian dalam diri kita yang sebelumnya kita tunda, tolak dan hindari, bisa dihadapi dan disembuhkan. Saya rasa aspek ini belum mendapatkan penekanan yang cukup dalam pendekatan persalinan saat ini. Sebagai contoh, praktek hypnobirthing juga menekankan pada relaksasi, komunikasi dengan janin, serta penggunaan sugesti untuk mengendalikan nyeri. Tapi belum menyentuh lapisan yang lebih dalam.

Saya merasa perempuan perlu lebih menyadari bahwa proses hamil sembilan bulan itu bagaikan masuk ke lajur cepat pertumbuhan kesadaran dan pencerahan batin. Bila ini dipahami dan dijalankan, maka di hari H persalinan, mereka lebih bisa mendengar intuisi tubuhnya, berserah dan mengizinkan proses alam, bagaimana pun itu.

LIZ: Sejalan juga dengan analogi bahwa bagaimana kita mati ditentukan oleh bagaimana kita hidup.

REZA: Tepat sekali. Pada hari kelahiran, konon terbukalah portal semesta yang menjembatani hidup dan mati. Ada pepatah lama juga yang bilang: sesaat sebelum ajal, seluruh perjalanan hidup kita berkelebat sekedip mata. Pada momen itu apa yang muncul biasanya adalah pengalaman hidup yang belum tuntas atau belum sembuh, karena itulah dia muncul, agar kita punya kesempatan untuk menyadarinya sebelum proses ajal bisa sempurna. Perempuan lebih beruntung dalam hal ini, karena mereka bisa mengalami terbukanya portal itu berkali-kali melalui pengalaman persalinan.

LIZ: Seperti yang tadi diceritakan, di kebanyakan fasilitas medis konvensional, tidak ada cukup ruang yang mengizinkan Anda untuk percaya pada kemampuan tubuh Anda sendiri. Anda tidak diberikan cukup waktu. Anda juga tidak leluasa bergerak.

REZA: Yang cenderung terjadi adalah putusnya hubungan antara ibu dengan inteligensi tubuhnya sendiri. Banyak orang yang setelah tahu proses persalinan Atisha lantas berkomentar, “Terang aja, kan suaminya Dewi terapis, makanya dia bisa melakukan itu. Kalau suami lain sih pasti nggak mampu.” Padahal, kenyataannya, saya hanya mengikuti aba-aba dari Dewi. Dan Dewi mengikuti aba-aba dari intuisi dalam tubuhnya, yang juga bersumber dari sang bayi. Intuisi itulah yang membimbing kami. Saya sendiri nggak pernah menduga kalau saya bakal sendirian mendampingi persalinan Dewi. Nggak ada keterampilan khusus yang saya punya untuk itu, kami hanya terus berserah dan mengalir dengan “bimbingan intuitif” tadi.

DEE: Kalau saya ingat kembali, saya merasa nggak melakukan apa-apa. Persis seperti apa kata Mira, nggak usah memaksakan mengejan. Bayi dan tubuh saya bekerja sama untuk mendorongnya keluar. Saya hanya mengizinkan dan memberinya ruang. Mengizinkan adalah kuncinya. Bukan saya harus melakukan sesuatu, atau Reza harus punya keterampilan khusus.

REZA: Kami cuma duduk dalam kolam, bernapas bersama, kadang tersenyum, bahkan sempat bercanda, berpegangan tangan, dan akhirnya menangkap bayi. Kalaupun dianggap ada keterampilan khusus, ya cuma di bagian menangkap bayi dalam air aja, ha-ha-ha… secara umum, semua orang bisa kok.

LIZ: Jadi, menurut Anda, ada mispersepsi besar tentang persalinan di masyarakat modern sekarang ini?

REZA: Beberapa minggu lalu, saya menjadi salah satu di antara lima pembicara di sebuah seminar untuk ibu hamil. Ada dokter, ahli nutrisi, psikolog, pakar perencanaan keuangan, dan saya sendiri. Si dokter sempat menyatakan di depan 500 peserta, bahwa melahirkan adalah peristiwa yang berbahaya. Dia memberikan contoh: per harinya, jumlah orang yang meninggal saat persalinan lebih banyak daripada yang meninggal akibat perang Irak. Untungnya saya kebagian berbicara terakhir, dan dokter itu pulang duluan. Jadi saya sempat “mengoreksi” opini itu ke para peserta, saya bilang: “Itu analogi yang nggak pas nalarnya. Jumlah orang yang terlibat di perang Irak jelas jauh lebih kecil dari jumlah ibu hamil di dunia. Jadi, jangan dianggap perbandingan yang seimbang.” Peristiwa itu adalah contoh betapa memprihatinkannya situasi saat ini. Banyak orang, bahkan pakar medis sekalipun, terkadang secara tidak sadar memperburuk persepsi persalinan bagi calon ibu. Tentu saja, risiko komplikasi persalinan itu ada, dan ada kehamilan berisiko tinggi yang perlu ditangani dengan hati-hati. Tapi, seringnya, karena mispersepsilah calon ibu jadi banyak rasa takut dan akhirnya kehilangan kemampuan kodratinya untuk melahirkan dengan alami.

DEE: Dan karena ketakutan itu juga, para calon ibu secara tidak sadar menyerahkan kekuatan dan otonomi atas tubuhnya kepada pihak lain, yang dianggap lebih tahu.

LIZ: Rumah sakit cenderung dirancang untuk bertindak, untuk melakukan “sesuatu”. Dan ini bukanlah lingkungan yang kondusif untuk Gentle Birth, karena Gentle Birth justru mensyaratkan kepasrahan, keberserahan pada proses alam.

DEE: Rumah sakit memang tempat untuk memberi tindakan. Memang itu sudah fitrahnya. Mau nggak mau, persalinan di rumah sakit pun akhirnya tidak lepas dari modus intervensi.  Saya merasa praktek persalinan umum yang banyak terjadi di rumah sakit itu sangat tunduk dan dibatasi oleh waktu. Di persalinan Keenan, misalnya, saya datang subuh, dan setelah sekian jam, bukaan dianggap belum cukup, protokol berikutnya adalah induksi, setelah sekian jam lewat, protokol berikutnya sudah menanti, entah itu induksi lagi, epidural, Caesar, dsb. Dan yang saya tahu, mayoritas persalinan di rumah sakit harus terjadi setidaknya dalam 24 jam. Sementara yang saya dengar dari Mira, cukup banyak perempuan mengalami tahap pertama persalinan antara 1 sampai 3 hari. Melahirkan bayi dengan batasan 24 jam sesungguhnya nggak bisa disamaratakan untuk semua perempuan.

REZA: Yang juga kami dengar, saat ini di Indonesia, jumlah orang yang butuh fasilitas persalinan jauh lebih banyak dibanding ketersediaan jumlah fasilitasnya. Jadi begitu seorang calon ibu masuk ke rumah sakit, ada semacam kebutuhan untuk segera menuntaskan persalinan, supaya calon ibu berikutnya bisa dilayani. Terkadang kebutuhan ini membuat terjadinya intervensi yang nggak alamiah untuk mempercepat proses. Orang-orang sekarang berlomba untuk mendapatkan fasilitas persalinan yang terbaik. Padahal, persalinan di rumah sakit modern dengan teknologi serba canggih dan mahal belum tentu tepat dengan kebutuhan lahir batin ibu dan bayi secara alami.

LIZ: Apakah ada penyesalan tentang pengalaman kehamilan sebelumnya?

DEE: Kalau saya boleh mengulangi kembali hidup saya, saya akan tetap menjalani kedua persalinan saya sebagaimana adanya. Melahirkan Keenan dengan cara yang sangat berbeda membuat saya paham betul perbedaan antara kedua persalinan itu. Dan itu memudahkan saya berbagi dengan perempuan lain. Seandainya kedua anak saya lahir spontan alami, saya nggak yakin bisa berempati dan berbagi banyak tentang pengalaman lahir melalui operasi Caesar di rumah sakit. Sekarang saya bisa berbagi dari kedua perspektif. Untuk itu, saya sangat bersyukur.

LIZ: Apakah kalian berencana untuk punya anak lagi?

REZA: Saat ini, enggak. Kita juga tidak merencanakannya. Sekarang rasanya lebih baik merawat dan mengasuh kedua anak kami dengan optimal, ketimbang menambah anak lagi. Saya hanya berharap semakin banyak yang sadar tentang pentingnya Gentle Birth, dan semoga semakin banyak orang tua dan bayi yang memperoleh manfaat dari pengalaman itu.